seratus malam aku terlelap. merayapi waktu yang pengap. usia rampung di
sini, kamar yang selalu berbau puisi. seperti penyair abad pertengahan.
aku memandang kapal menuju pelabuhan, menunggu kabar yang selalu
gantung dari seorang nakhoda. seketika didih gelombang merasuk lewat
mimpi panjangku, lewat geladak yang dijaga penumpang, dan kemudi yang
melambatkan daratan. aku sendiri
merentangkan kedatangan. menghirup bau garam. ada lelah yang terseret di
antara suara yang tak mampu menjangkau ujung-ujung kuku. mengendap di
penciuman. sepi dan lelah menunggangi garis-garis silam. naluri dari
ingatanku terkirim ke suatu negeri tanpa hukum untuk menyelesaikan
perkara cinta.
sampai di malam yang terakhir. aku terpelanting
di antaran pohon-pohon bakau. hidup diam, dalam kata-kata yang murni
sendiri. bahasa telah melupakan sirine kapal dan debur ombak. aku
bernyanyi. aku melihat bulan tergantung di antara dahan-dahan ketapang.
rimbun dan elok cahayanya. bagai mata ibu yang memintaku untuk berlaku
jujur.
ah. alangkah dalam sunyi memanggilku. hingga aku
melupakan siapa yang menunggu penuh janji. ( di dalam sunyi tak ada
kanak-kanak, tak ada remaja, tak ada dewasa)
yang kutemukan
adalah jiwaku menetes ke dalam waktu. roh dan puisi bergandengan
menuntunku sampai ke gerbang penghabisan. rahasia dan isyarat tidak ada
yang disembunyikan bila makna dapat diterima dengan sederhana. itu
adalah ingatanku yang kesekian dari beberapa risalah yang kutemukan di
tepian pantai.
Baiklah Chandra....untuk apa kau membalut
kata-katamu dengan berlapis-lapis makna. saat semua orang tak mengerti
apa maumu. engkau bersorak kegirangan. tidakkah engkau dilahirkan dari
sebuah kesederhanaan sikap yang saling mengerti. engkau akan selalu
asing bila tak ingin berbagi. ya berbagi saja apa adanya.
engkau dapat bercerita tentang petuah-petuah lama dan dongeng-dongeng
tua. tentang malaikat yang mengajarimu bersujud. tentang puisi yang
beranak pinak dari tangan jadahmu. kemudian kau lepas ia mengembara
dicaci-maki atau...o, penyair lugu adakah malam-malam selanjutnya untuk
kau akhiri permenunganmu?
Maka Istiqomah sajalah !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar