Sebagai diam, aku tak harus bernaung dari sunyi membaca kesepian selamanya. Sebagai titik air, aku tak harus jadi airmata dirabun mataku. Namun, jika kusentuh genangan kesepianmu, apakah lingkar riaknya akan sampai keseberang, ketepian kesendirianku ?
Sabtu, 22 Februari 2014
Seandainya Kamu Memahami
S eandainya...sedikit saja engkau memahami...
E ngkau tak mungkin memalingkan wajah kerinduan pada nestapa
A bu amarah yang kau terbangkan pada kelopak langit
N nyanyianmu sumbang dalam orkestra hatiku yang menghitam
D isini...telah kau sempurnakan semua kecemasan
A ku diam bukan bisu...karena kata telah habis kau rampas!
I nilah hari dimana kau pergi.....
N nyanyianku sembilu yang merajam hati
Y ang tak lagi kau dengar iramanya meski terbata
K ita menjadi asing satu sama lain
A antra kita telah berukur jarak yang di ukir langkahmu
M aka semua menjadi kerinduan yang membatu
U ntuk inikah kita bertemu?
M anakah wangi asa yang pernah kau hembuskan?
E ngkau ingkari kata dan kalimatnya
M embangun tiang kokoh ketidaktahuanku
A ku menjelma sepi tak berkesudahan
H ampa...dalam altar kalbu kepedihan
A ku kini selalu... menulis namamu dalam diam
M embacanya samar dan kemudian aku tulis lagi...
I nilah aku ..ah...seandainya engkau memahami
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar