Sebagai diam, aku tak harus bernaung dari sunyi membaca kesepian selamanya. Sebagai titik air, aku tak harus jadi airmata dirabun mataku. Namun, jika kusentuh genangan kesepianmu, apakah lingkar riaknya akan sampai keseberang, ketepian kesendirianku ?
Jumat, 21 Februari 2014
Sehabis Dhuha : (Dalam renung bagi diriku)
adakah kebenaran yang kau temui dari setiap sujud sebelum maut menjemput di perbatasan sunyi.?
begitulah,kiranya kau berlari merabas kemungkinan dari hati yang khusyuk dan sejenak diam tanpa harus menghabiskan setiap perbendaharaan kata yang tersimpan antara kaf dan nun
di mihrab-Nya tak kau pahami betapa waktu mengukirmu menjadi kelam dan kehilangan kesabaran lalu kau dengar sebuah bisikan :
...." kembalilah menjalani hari dengan hari-hari yang suci,dan biarkan tubuh diam, tanpa ruh." ...
angin khuldi, meniupkan pembenaran,dinding kamar menjadi sunyi senyap tanpa lampu,gelap, penuh airmata...mungkin,kau harus begini tanpa berharap benda benda dunia dari pintu membuka segala keikhlasan dan kembali dalam keberdayaanmu sebagai hamba.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar