Sabtu, 15 Maret 2014

Rinduku, sepimu

“telah kutimbun rindu pada tiap helai rambutmu
meski tak kutahu benar bagaimana rindu
kuterjemahkan padamu”

di dalam ingatan ini, pertemuan menjadi abadi
selalu ada yang terperangkap meski kita tak saling ucap
sebab dalam ingatan ini, selalu kutemui jejak-jejak kaki
yang mengantarku pulang kembali kepadamu;
pulang kembali ketempat aku mengabdi

maka di ujung jejak kaki ini
kubayangkan kau berdiri sendiri, setia menemani sepi.

Tauhid :

..." memunguti nafas yang terbata-bata, menembus kabut dalam Uluhiyah-MU adalah persiapan perjalanan jauh yang tak terbatas menuju Arrasy, setelah itu menyatu dalam hening, larut tenagaku, hilang ragaku diam dalam Mulkiyah-MU. tak ada yang bisa mengangkatku semua hilang, lunglai kecuali La Khaola walla Quwatta, nafas kutinggal, logika kutinggal, semua nafsuku, dan dengan segala sisa kuketuk Rubbuiyah-MU untuk menemuiMu…"

TADARUS :

Terberkahilah engkau, yang memperjalankan cinta, dari lirih mulut, menyebut ayat ayat yang melembutkan kalbu pada waktu siang dan juga malam. Terberkahilah Engkau, karena cintamu, adalah jalan, adalah perjalanan. Karena hati, adalah peta yang memandu, adalah rumah kemana menuju. Kalau kau bertanya, kapan sampai? sesungguhnya Engkau tepat berada di hadapan-Nya.

Perihal aku :

Siapa yang datang dari nganga mulutku dengan sejuta ritual, dan tafsir tafsir yang jatuh di nyeri ngilu kalbu, menjadi puing puing doa ketika segala peristiwa tak dapat dimaknai. Apakah hening zikir menjadi cawan tempat mata air, menanyakan pada segala tanya, segala amarah, mencerna segala perih. Didalam gua sunyi ini, seperti imam yang menggigil ingin kudekap merah duka menjadi tanah dan laut kata yang bergelombang menemui rusuk abadiku. Pada nyanyian resah kutelah sunyikan lagi cinta dan berlinang denyut abadiku menyusun lagi angan tak berakhir

Tadarus Mawar :

Ruang murung ini kau koyak dengan harum semerbak seperti kening yang mengiblat harap. Padahal...kau hanya merah sederhana, Pun tak ada tatap sengit. Matamu dan mataku sama terpejam, lelah dengan warna senja dalam ruang yang mengurung sunyi dalam hati. Sunyi yang merupa duri : menusukkan perih dan nyeri seperti aroma yang tak ingin pergi. Maka kau pendam aroma yang tabah dan aku luka tusuk yang terus khusyuk bertahan akan sebuah kerinduan

Kontemplasunyi :

Wahai diri...adakah kebenaran yang kau temui dari setiap do'a sebelum maut menjemput di perbatasan sunyi?. sekiranya kau bacakan kemuraman,menjumpai cahaya kehidupan di balik tetes kemurnian embun cinta Tuhanmu. apakah akan ada jawab sebelum,sendirinya hilang mengalir bening semakin menemukan rahasia yang pantas kau benarkan.dan betapa waktu mengukirmu menjadi kenangan.mungkin,kau harus begini tanpa seribu bulan dari pintu membuka segala keikhlasan dan kembali dalam keberdayaanmu sebagai hamba.

Sarapan Kata

Bahwa kata kata naik ke ujung sendok, melukai garpu, tenggelam dalam remang kabut yang terbaring pada seraut wajah melankoli di sudut ingatan, menuntun malam menuju pagi menjejali lobang lobang ingatan dalam selasar kenangan dulu dan kini, merelief pertanyaan pada meja makan yang gemetar : adakah yang dapat mengalahkan kenangan selain kerinduan, lalu di tapal mana akan kita habiskan riwayat sunyi ?

hayya alas sholat...

Mari memarkan ingatan pada Asma-Nya. benturkan yang tak gamang, bergeming, samarkan nama dengan sesukat sakit pada lidah yang selalu ingin menyebut-Nya. Kita bukanlah penyabar, bukankah di hadapan waktu kita sama saja : juga tak berdaya?

dan demi hidup yang tak hidup itu, seluka -seluka, mengaduhlah sepedih-pedihnya hanya pada-Nya. Dengan demam tubuh mengucap apa yang ia pendam. Mungkin, akhirnya, kita, aku dan kau dan tubuh kita, rindu sekadar sekejap pejam pada sajadah usang itu.

Bagi Diriku :

adakah yang kau pahami tentang kata di balik bunga waktu dan suara igau di matahari oleh zikir puisi yang kau sampaikan melalui tadarus, dari pintu pintu mawar dan ranting seratus aliflammim. raga adam yang terus berhembus antara angin khuldi sebelum terlelap. bilakah kau menafsirkan pencapai antara pewarna imaji dan bibir keluh dari setiap ayat yang tandas kau ajak bicara dalam hening. maka, bicaralah dengan kesahajaan tentang cinta pada segala rasa yang tak mampu memberi selain atas cinta-Nya.

Lirih :


Pada geming ranting yang menusuk gelap malam, dan pada angin yang patuh merengkuh dingin, dibawah pohon aku menaungkan lelah, merebahkan dada dengan akar, agar gemuruh didada diredam oleh bumi. berharap getarnya sampai ke telinga hatimu....aku rindu kamu.

Minggu, 02 Maret 2014

EPITAF

pernah kuminta sebuah kunci
untuk membuka hatimu
yang diam di kelopak-kelopak mawar

karena aku sangat berharap
ada embun yang menetes dari hatimu
mengobati mataku yang buta
oleh didih pukaumu

aku mengeluh, menggapai-gapai
potret yang jatuh mengepungku
dalam kerak sajak. beribu sujud aku tetaskan
menujumu. tapi kunci yang kuminta
tak pernah kau lempar ke tanganku

kau beri aku buku-buku
yang menghidupkan pena

di situlah segalanya
menjadi aku

atas kesepian yang memar
aku tuliskan rupamu dalam kenangan
menggantinya dengan berbagai makna. ingatan.

kini kerinduanku dikalahkan kenangan
ingatan akan harapanku kepadamu
kata yang berdarah kuucapkan.
mungkin tak akan berarti selamanya bagimu

kunci dunia yang kau ledakkan melalui tanganku
senantiasa menenteramkan segala rahasia
yang tak pernah kucapai seutuhnya

karena itulah aku dapat melihat semesta yang lain
selain hatimu yang menerbitkan mabukku paling dungu
mengantarkan aku dalam perburuan sajak-sajakku

NYANYI SUNYI

semakin aku tak memahami
di setiap tangkai mawar
yang pernah kususun di dalam uraian sajak
dan kala gerimis kita
berdiam di setiap kelopak
pada segala kerinduan
kau berayun tersipu di bolamataku

engkau nona, hanya dalam ingatanku
yang menjadi hantu di kala aku mainkan sebuah lirik lagu
seolah bayangmu membisikkan lagi
harapan-harapan yang pernah kutinggalkan untukmu
namun, gemuruh dadaku berontak
mengingat semuanya, dalam esokku, dalam bahasaku

aku ingin kau pergi, mati dalam rupa sajakku
matinya mawar yang mengurai
seperti hujan yang tak pernah kau harapkan
untuk menetes
seperti pagi yang tak kunjung datang

berhentilah nona, kau sembunyi di balik tali-tali gitarku
aku ingin bernyanyi, berhentilah kau menjadi ruh dalam nyanyiku
aku ingin kau pergi, dengan semua yang telah kupilih
aku lelaki yang sepi, berjalan dari kesunyian, menapaki nasib diri

semakin aku tak dapat memahami
di setiap tangkai mawar
kepada gerimis, beserta lagu-lagu yang kunyanyikan

WASIAT

Nak...
jika aku memanggilmu dengan cinta
semoga aku menjelma Ibrahim dan kau Ismail
dimana kita berdua menaburkan kesukacitaan
pada altar dengan taburan wangi bunga surgawi
hingga kau yakin bahwa aku memanggilmu dengan cinta

Nak...
jika aku membelaimu dengan cinta
semoga aku menjelma Husain cucu Rosulmu
meski seribu anak panah menghiasi kelembutan kulit
dan kuangkat dirimu semampu kerelaan ajal
dipadang karbala yang butarata
hingga kau yakin bahwa aku membelaimu dengan cinta

tapi...
jika saja kau memutuskan jauh dariku
dan dunia dengan tipu dayanya menyeretmu
apa dayaku...? semua titik akan dipertemukan oleh takdir

meski kutahu kau harus mengukir nasibmu sendiri
ukirlah nasibmu dengan pahat yang menghujam jantungmu
dan relieflah bentuk bentuk kesabaran dan keikhlasan
jadikan dirimu panglima yang menguasai hawa nafsumu
jaga dirimu dari ketergelinciran lidah
arahkan pandanganmu pada sahaja tawadhu-NYA
rendahkan singgasana angkuhmu!
sungguh...tidak ada yang boleh melebihi ketinggian Arasy

kokohkan tulang punggungmu pada dzikir sunyimu
jaga telingamu dari masuknya Ghibah walau sebesar debupun
tempatkan tanganmu selalu diatas..jangan pernah meminta!
dan tengadahkan tanganmu hanya kepada Allah semata

langkahkan kakimu menuju keridhaan-NYA
kenakan sepatu Zihad berkaus kaki Zuhudmu
jemputlah takdir yang sebenar benarnya
sebuah takdir yang harus kau pilih berkumpul dengan para syuhada

tegakkan panji kebenaran islam dengan tunduknya kepalamu pada amarah
liputi hatimu dengan keutamaan keutamaan keberanian dan kejujuran
hilangkan rasa takut...!
jadilah srigala dengan mata nyalang terhadap musuh musuh-NYA
jelang marabahaya yang penuh rasa sakit dan nyeri hingga ke ulu hati
demi tegaknya LA ILA HA ILALLAH...
reguk kepahitan hausmu dan rasa lapar yang menghimpit lambungmu
demi ke-Esa-an Rabb mu

teguhlah meski tubuhmu tercabik angkara murka dunia
karena akherat lebih baik untukmu...
jadikan Iblis dan sekutunya,musuhmu yang paling abadi
lemah lembutlah dalam berucap karena lidah akan lebih melukai dari belati
rendahkan perilakumu karena segala yang berlebihan adalah angin jahanam.
berikan dari sebagian yang kamu miliki
karena dari sebagian yang kamu miliki
adalah hak saudara mu'min mu yang papa
jangan rampas hak mereka karena rakus nafsumu

nak...
jika saja aku memanggilmu dan membelaimu...
yakinkan olehmu...bahwa aku melakukannya dengan cara yang diajarkan Tuhanku.

Lulaby

Nak,,
Lelaplah dengan mimpi-mimpi di siang harimu.
walau uang saku selalu saja tak terberi

lupakanlah, segala lelah yang bermula dari kakimu.
sebab tapak-tapak yang kau jejakkan di tanah.
begitu ikhlas mengantarmu mengejar sekawanan belalang
atau kupu-kupu elok di halaman belakang

suatu ketika kau berteriak sambil berkacak pinggang
di antara rimbun batang rumput
kau berseru :

Ayah....Langit berdebar biru !

aku tersenyum menatap wajahmu yang nampak lusuh
oleh petualanganmu meraih matahari

engkau belum mengenal basa-basi aku membacanya.
membaca puisi yang berkata lembut.
apa adanya dengan segala kekanakanmu

lelaplah dengan kehidupan yang kau lewatkan.
sebab esok kau akan terbangun melihat langit benar-benar berdebar biru

dari wajahmu yang paling lugu itu
Ayah yang jarang pulang...tak jadi masalah bagimu

engkau mungkin tak mengerti tentang kata-kata puitis
namun kesehajaan dari kanak-kanakmu
mengajariku untuk lebih paham arti kejujuran

bila demikian. lelap lebih pulaslah bintang hatiku
aku akan mengantarmu merayapi kepenatan penantian kepulanganku
dengan tanganku yang akan menjagamu sampai fajar, esok, dan seterusnya...

Perihal Rindu

Dan ranting dalam batok kepalaku bergemeretak.
Menimbulkan denyut yang paling gaduh.
Pohon cinta itu rubuh menyemburkan getah kerinduan pada bisik mesramu :
 

.. "sepi berdendang Seperti seruling lengking di ujung malam." 

..Sekali ini...Terimalah uluran tangan edelweisku. Sekali ini....Peluklah dada lelaki paling sunyi ini.

Beri Aku Kesepian

beri aku kesepian, walau sekejap, puisi akan hadir bagai mataair, mengalir dari telapak tangan dan membening ke dalam buku-buku tak berwarna

engkau akan melihat sesuatu, terbujur di ruang kosong, kabut jiwa yang susut setelah retak dibaca kenangan

matahari yang telentang, tak mengirimku menjadi orang asing, namun aku melupakan janji pada sebuah kota, yang tak tahu kapan bisa kembali menyusun kerangka mimpi

karena angin yang baru saja lewat, seakan terhenti.

aku telah berubah, membiaskan sepi pada sepasang mata, yang enggan menerjemahkan bahasa

lihatlah, bagaimana kerinduan mengering di telinga yang tak lagi mendengar lagu kesunyian. mati dan menjelma seekor burung lalu hinggap di sebatang pohon

beri aku pengertian, karena aku sendiri lagi. tanpa kekasih yang mempersiapkan pisau di kamar. mungkin aku berjalan dengan sebuah kereta. di tengah belantara, di temani pepohonan, angin, burung, dan mimpi yang tertunda

di manakah angin gaib yang menyalakan mataku, ataukah kenangan akan selalu karam

di sini. langkah yang kutuliskan pada api

Friksi

Begitu tajamkah mata pada cahaya
seperti karang menolak matahari sebagai kekasih, tapi kalbu malah terbakar akan resah perasaan karena penolakan-penolakan ini adalah karang bagi dunia dan pagi dan menjadi airmata bagi kalbu,

Ah..dan lihatlah kamu dan aku dapat bicara sekali lagi masuklah, masuk lewat mataku hingga tenggelam dalam leleh kalbuku setiap waktumu telah melebur menuju penghabisan hayatku mengeras dalam perenungan-perenungan yang tak mampu aku rampungkan.

Bilakah aku mengetuk diammu kepada cahaya atas bunga-bunga yang mekar di taman langit
aku meminta kalbumu untuk kalbuku dengan cahayaku yang dimiliki cahayamu, berhadapan dalam mata kalbu wahai diri...