Sebagai diam, aku tak harus bernaung dari sunyi membaca kesepian selamanya. Sebagai titik air, aku tak harus jadi airmata dirabun mataku. Namun, jika kusentuh genangan kesepianmu, apakah lingkar riaknya akan sampai keseberang, ketepian kesendirianku ?
Sabtu, 22 Februari 2014
TIRAKAT
Aku tak menggenggam malammu, udaramu, dan fajarmu,
hanya Bumi, keniscayaan tandan-tandan buah itu,
bagai segar apel karena menyerap air yang manis,
lempung dan damar dari ladang harum, ladang manismu.
Dari Jakarta dari mana matamu memulai pandang
hingga Tasikmalaya di mana kakimu melangkah untukku,
engkaulah hitam tanah subur yang aku sangat tahu:
memegang pinggangmu, bagai kusentuh tangkai padi lagi.
O, Perempuan dari Ilham Allah, mungkin kau tak tahu
betapa lupa aku pada kecupanmu sebelum mencintaimu,
Tapi hatiku terus mengenang mulutmu, aku pun terus
dan terus menempuhi jalan sebagai lelaki terluka,
hingga aku memahami, Cinta: Aku sudah temukan
tempatku, bentang daratan kecupan dan gunung berapi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar