“telah kutimbun rindu pada tiap helai rambutmu
meski tak kutahu benar bagaimana rindu
kuterjemahkan padamu”
di dalam ingatan ini, pertemuan menjadi abadi
selalu ada yang terperangkap meski kita tak saling ucap
sebab dalam ingatan ini, selalu kutemui jejak-jejak kaki
yang mengantarku pulang kembali kepadamu;
pulang kembali ketempat aku mengabdi
maka di ujung jejak kaki ini
kubayangkan kau berdiri sendiri, setia menemani sepi.
Sebagai diam, aku tak harus bernaung dari sunyi membaca kesepian selamanya. Sebagai titik air, aku tak harus jadi airmata dirabun mataku. Namun, jika kusentuh genangan kesepianmu, apakah lingkar riaknya akan sampai keseberang, ketepian kesendirianku ?
Sabtu, 15 Maret 2014
Tauhid :
..." memunguti nafas yang terbata-bata, menembus kabut dalam
Uluhiyah-MU adalah persiapan perjalanan jauh yang tak terbatas menuju
Arrasy, setelah itu menyatu dalam hening, larut tenagaku, hilang ragaku
diam dalam Mulkiyah-MU. tak ada yang bisa mengangkatku semua hilang,
lunglai kecuali La Khaola walla Quwatta, nafas kutinggal, logika
kutinggal, semua nafsuku, dan dengan segala sisa kuketuk Rubbuiyah-MU
untuk menemuiMu…"
TADARUS :
Terberkahilah engkau, yang memperjalankan cinta, dari lirih mulut,
menyebut ayat ayat yang melembutkan kalbu pada waktu siang dan juga
malam. Terberkahilah Engkau, karena cintamu, adalah jalan, adalah
perjalanan. Karena hati, adalah peta yang memandu, adalah rumah kemana
menuju. Kalau kau bertanya, kapan sampai? sesungguhnya Engkau tepat
berada di hadapan-Nya.
Perihal aku :
Siapa yang datang dari nganga mulutku dengan sejuta ritual, dan tafsir
tafsir yang jatuh di nyeri ngilu kalbu, menjadi puing puing doa ketika
segala peristiwa tak dapat dimaknai. Apakah hening zikir menjadi cawan
tempat mata air, menanyakan pada segala tanya, segala amarah, mencerna
segala perih. Didalam gua sunyi ini, seperti imam yang menggigil ingin
kudekap merah duka menjadi tanah dan laut kata yang bergelombang menemui
rusuk abadiku. Pada nyanyian resah kutelah sunyikan lagi cinta dan
berlinang denyut abadiku menyusun lagi angan tak berakhir
Tadarus Mawar :
Ruang murung ini kau koyak dengan harum semerbak seperti kening yang
mengiblat harap. Padahal...kau hanya merah sederhana, Pun tak ada tatap
sengit. Matamu dan mataku sama terpejam, lelah dengan warna senja dalam
ruang yang mengurung sunyi dalam hati. Sunyi yang merupa duri :
menusukkan perih dan nyeri seperti aroma yang tak ingin pergi. Maka kau
pendam aroma yang tabah dan aku luka tusuk yang terus khusyuk bertahan
akan sebuah kerinduan
Kontemplasunyi :
Wahai diri...adakah kebenaran yang kau temui dari setiap do'a sebelum
maut menjemput di perbatasan sunyi?. sekiranya kau bacakan
kemuraman,menjumpai cahaya kehidupan di balik tetes kemurnian embun
cinta Tuhanmu. apakah akan ada jawab sebelum,sendirinya hilang mengalir
bening semakin menemukan rahasia yang pantas kau benarkan.dan betapa
waktu mengukirmu menjadi kenangan.mungkin,kau harus begini tanpa seribu
bulan dari pintu membuka segala keikhlasan dan kembali dalam
keberdayaanmu sebagai hamba.
Sarapan Kata
Bahwa kata kata naik ke ujung sendok, melukai garpu, tenggelam dalam
remang kabut yang terbaring pada seraut wajah melankoli di sudut
ingatan, menuntun malam menuju pagi menjejali lobang lobang ingatan
dalam selasar kenangan dulu dan kini, merelief pertanyaan pada meja
makan yang gemetar : adakah yang dapat mengalahkan kenangan selain
kerinduan, lalu di tapal mana akan kita habiskan riwayat sunyi ?
hayya alas sholat...
Mari memarkan ingatan pada Asma-Nya. benturkan yang tak gamang,
bergeming, samarkan nama dengan sesukat sakit pada lidah yang selalu
ingin menyebut-Nya. Kita bukanlah penyabar, bukankah di hadapan waktu
kita sama saja : juga tak berdaya?
dan demi hidup yang tak hidup itu, seluka -seluka, mengaduhlah sepedih-pedihnya hanya pada-Nya. Dengan demam tubuh mengucap apa yang ia pendam. Mungkin, akhirnya, kita, aku dan kau dan tubuh kita, rindu sekadar sekejap pejam pada sajadah usang itu.
dan demi hidup yang tak hidup itu, seluka -seluka, mengaduhlah sepedih-pedihnya hanya pada-Nya. Dengan demam tubuh mengucap apa yang ia pendam. Mungkin, akhirnya, kita, aku dan kau dan tubuh kita, rindu sekadar sekejap pejam pada sajadah usang itu.
Bagi Diriku :
adakah yang kau pahami tentang kata di balik bunga waktu dan suara igau
di matahari oleh zikir puisi yang kau sampaikan melalui tadarus, dari
pintu pintu mawar dan ranting seratus aliflammim. raga adam yang terus
berhembus antara angin khuldi sebelum terlelap. bilakah kau menafsirkan
pencapai antara pewarna imaji dan bibir keluh dari setiap ayat yang
tandas kau ajak bicara dalam hening. maka, bicaralah dengan kesahajaan
tentang cinta pada segala rasa yang tak mampu memberi selain atas
cinta-Nya.
Lirih :
Pada geming ranting yang menusuk gelap malam, dan pada angin yang patuh merengkuh dingin, dibawah pohon aku menaungkan lelah, merebahkan dada dengan akar, agar gemuruh didada diredam oleh bumi. berharap getarnya sampai ke telinga hatimu....aku rindu kamu.
Minggu, 02 Maret 2014
EPITAF
pernah kuminta sebuah kunci
untuk membuka hatimu
yang diam di kelopak-kelopak mawar
karena aku sangat berharap
ada embun yang menetes dari hatimu
mengobati mataku yang buta
oleh didih pukaumu
aku mengeluh, menggapai-gapai
potret yang jatuh mengepungku
dalam kerak sajak. beribu sujud aku tetaskan
menujumu. tapi kunci yang kuminta
tak pernah kau lempar ke tanganku
kau beri aku buku-buku
yang menghidupkan pena
di situlah segalanya
menjadi aku
atas kesepian yang memar
aku tuliskan rupamu dalam kenangan
menggantinya dengan berbagai makna. ingatan.
kini kerinduanku dikalahkan kenangan
ingatan akan harapanku kepadamu
kata yang berdarah kuucapkan.
mungkin tak akan berarti selamanya bagimu
kunci dunia yang kau ledakkan melalui tanganku
senantiasa menenteramkan segala rahasia
yang tak pernah kucapai seutuhnya
karena itulah aku dapat melihat semesta yang lain
selain hatimu yang menerbitkan mabukku paling dungu
mengantarkan aku dalam perburuan sajak-sajakku
untuk membuka hatimu
yang diam di kelopak-kelopak mawar
karena aku sangat berharap
ada embun yang menetes dari hatimu
mengobati mataku yang buta
oleh didih pukaumu
aku mengeluh, menggapai-gapai
potret yang jatuh mengepungku
dalam kerak sajak. beribu sujud aku tetaskan
menujumu. tapi kunci yang kuminta
tak pernah kau lempar ke tanganku
kau beri aku buku-buku
yang menghidupkan pena
di situlah segalanya
menjadi aku
atas kesepian yang memar
aku tuliskan rupamu dalam kenangan
menggantinya dengan berbagai makna. ingatan.
kini kerinduanku dikalahkan kenangan
ingatan akan harapanku kepadamu
kata yang berdarah kuucapkan.
mungkin tak akan berarti selamanya bagimu
kunci dunia yang kau ledakkan melalui tanganku
senantiasa menenteramkan segala rahasia
yang tak pernah kucapai seutuhnya
karena itulah aku dapat melihat semesta yang lain
selain hatimu yang menerbitkan mabukku paling dungu
mengantarkan aku dalam perburuan sajak-sajakku
NYANYI SUNYI
semakin aku tak memahami
di setiap tangkai mawar
yang pernah kususun di dalam uraian sajak
dan kala gerimis kita
berdiam di setiap kelopak
pada segala kerinduan
kau berayun tersipu di bolamataku
engkau nona, hanya dalam ingatanku
yang menjadi hantu di kala aku mainkan sebuah lirik lagu
seolah bayangmu membisikkan lagi
harapan-harapan yang pernah kutinggalkan untukmu
namun, gemuruh dadaku berontak
mengingat semuanya, dalam esokku, dalam bahasaku
aku ingin kau pergi, mati dalam rupa sajakku
matinya mawar yang mengurai
seperti hujan yang tak pernah kau harapkan
untuk menetes
seperti pagi yang tak kunjung datang
berhentilah nona, kau sembunyi di balik tali-tali gitarku
aku ingin bernyanyi, berhentilah kau menjadi ruh dalam nyanyiku
aku ingin kau pergi, dengan semua yang telah kupilih
aku lelaki yang sepi, berjalan dari kesunyian, menapaki nasib diri
semakin aku tak dapat memahami
di setiap tangkai mawar
kepada gerimis, beserta lagu-lagu yang kunyanyikan
di setiap tangkai mawar
yang pernah kususun di dalam uraian sajak
dan kala gerimis kita
berdiam di setiap kelopak
pada segala kerinduan
kau berayun tersipu di bolamataku
engkau nona, hanya dalam ingatanku
yang menjadi hantu di kala aku mainkan sebuah lirik lagu
seolah bayangmu membisikkan lagi
harapan-harapan yang pernah kutinggalkan untukmu
namun, gemuruh dadaku berontak
mengingat semuanya, dalam esokku, dalam bahasaku
aku ingin kau pergi, mati dalam rupa sajakku
matinya mawar yang mengurai
seperti hujan yang tak pernah kau harapkan
untuk menetes
seperti pagi yang tak kunjung datang
berhentilah nona, kau sembunyi di balik tali-tali gitarku
aku ingin bernyanyi, berhentilah kau menjadi ruh dalam nyanyiku
aku ingin kau pergi, dengan semua yang telah kupilih
aku lelaki yang sepi, berjalan dari kesunyian, menapaki nasib diri
semakin aku tak dapat memahami
di setiap tangkai mawar
kepada gerimis, beserta lagu-lagu yang kunyanyikan
WASIAT
Nak...
jika aku memanggilmu dengan cinta
semoga aku menjelma Ibrahim dan kau Ismail
dimana kita berdua menaburkan kesukacitaan
pada altar dengan taburan wangi bunga surgawi
hingga kau yakin bahwa aku memanggilmu dengan cinta
Nak...
jika aku membelaimu dengan cinta
semoga aku menjelma Husain cucu Rosulmu
meski seribu anak panah menghiasi kelembutan kulit
dan kuangkat dirimu semampu kerelaan ajal
dipadang karbala yang butarata
hingga kau yakin bahwa aku membelaimu dengan cinta
tapi...
jika saja kau memutuskan jauh dariku
dan dunia dengan tipu dayanya menyeretmu
apa dayaku...? semua titik akan dipertemukan oleh takdir
meski kutahu kau harus mengukir nasibmu sendiri
ukirlah nasibmu dengan pahat yang menghujam jantungmu
dan relieflah bentuk bentuk kesabaran dan keikhlasan
jadikan dirimu panglima yang menguasai hawa nafsumu
jaga dirimu dari ketergelinciran lidah
arahkan pandanganmu pada sahaja tawadhu-NYA
rendahkan singgasana angkuhmu!
sungguh...tidak ada yang boleh melebihi ketinggian Arasy
kokohkan tulang punggungmu pada dzikir sunyimu
jaga telingamu dari masuknya Ghibah walau sebesar debupun
tempatkan tanganmu selalu diatas..jangan pernah meminta!
dan tengadahkan tanganmu hanya kepada Allah semata
langkahkan kakimu menuju keridhaan-NYA
kenakan sepatu Zihad berkaus kaki Zuhudmu
jemputlah takdir yang sebenar benarnya
sebuah takdir yang harus kau pilih berkumpul dengan para syuhada
tegakkan panji kebenaran islam dengan tunduknya kepalamu pada amarah
liputi hatimu dengan keutamaan keutamaan keberanian dan kejujuran
hilangkan rasa takut...!
jadilah srigala dengan mata nyalang terhadap musuh musuh-NYA
jelang marabahaya yang penuh rasa sakit dan nyeri hingga ke ulu hati
demi tegaknya LA ILA HA ILALLAH...
reguk kepahitan hausmu dan rasa lapar yang menghimpit lambungmu
demi ke-Esa-an Rabb mu
teguhlah meski tubuhmu tercabik angkara murka dunia
karena akherat lebih baik untukmu...
jadikan Iblis dan sekutunya,musuhmu yang paling abadi
lemah lembutlah dalam berucap karena lidah akan lebih melukai dari belati
rendahkan perilakumu karena segala yang berlebihan adalah angin jahanam.
berikan dari sebagian yang kamu miliki
karena dari sebagian yang kamu miliki
adalah hak saudara mu'min mu yang papa
jangan rampas hak mereka karena rakus nafsumu
nak...
jika saja aku memanggilmu dan membelaimu...
yakinkan olehmu...bahwa aku melakukannya dengan cara yang diajarkan Tuhanku.
jika aku memanggilmu dengan cinta
semoga aku menjelma Ibrahim dan kau Ismail
dimana kita berdua menaburkan kesukacitaan
pada altar dengan taburan wangi bunga surgawi
hingga kau yakin bahwa aku memanggilmu dengan cinta
Nak...
jika aku membelaimu dengan cinta
semoga aku menjelma Husain cucu Rosulmu
meski seribu anak panah menghiasi kelembutan kulit
dan kuangkat dirimu semampu kerelaan ajal
dipadang karbala yang butarata
hingga kau yakin bahwa aku membelaimu dengan cinta
tapi...
jika saja kau memutuskan jauh dariku
dan dunia dengan tipu dayanya menyeretmu
apa dayaku...? semua titik akan dipertemukan oleh takdir
meski kutahu kau harus mengukir nasibmu sendiri
ukirlah nasibmu dengan pahat yang menghujam jantungmu
dan relieflah bentuk bentuk kesabaran dan keikhlasan
jadikan dirimu panglima yang menguasai hawa nafsumu
jaga dirimu dari ketergelinciran lidah
arahkan pandanganmu pada sahaja tawadhu-NYA
rendahkan singgasana angkuhmu!
sungguh...tidak ada yang boleh melebihi ketinggian Arasy
kokohkan tulang punggungmu pada dzikir sunyimu
jaga telingamu dari masuknya Ghibah walau sebesar debupun
tempatkan tanganmu selalu diatas..jangan pernah meminta!
dan tengadahkan tanganmu hanya kepada Allah semata
langkahkan kakimu menuju keridhaan-NYA
kenakan sepatu Zihad berkaus kaki Zuhudmu
jemputlah takdir yang sebenar benarnya
sebuah takdir yang harus kau pilih berkumpul dengan para syuhada
tegakkan panji kebenaran islam dengan tunduknya kepalamu pada amarah
liputi hatimu dengan keutamaan keutamaan keberanian dan kejujuran
hilangkan rasa takut...!
jadilah srigala dengan mata nyalang terhadap musuh musuh-NYA
jelang marabahaya yang penuh rasa sakit dan nyeri hingga ke ulu hati
demi tegaknya LA ILA HA ILALLAH...
reguk kepahitan hausmu dan rasa lapar yang menghimpit lambungmu
demi ke-Esa-an Rabb mu
teguhlah meski tubuhmu tercabik angkara murka dunia
karena akherat lebih baik untukmu...
jadikan Iblis dan sekutunya,musuhmu yang paling abadi
lemah lembutlah dalam berucap karena lidah akan lebih melukai dari belati
rendahkan perilakumu karena segala yang berlebihan adalah angin jahanam.
berikan dari sebagian yang kamu miliki
karena dari sebagian yang kamu miliki
adalah hak saudara mu'min mu yang papa
jangan rampas hak mereka karena rakus nafsumu
nak...
jika saja aku memanggilmu dan membelaimu...
yakinkan olehmu...bahwa aku melakukannya dengan cara yang diajarkan Tuhanku.
Lulaby
Nak,,
Lelaplah dengan mimpi-mimpi di siang harimu.
walau uang saku selalu saja tak terberi
lupakanlah, segala lelah yang bermula dari kakimu.
sebab tapak-tapak yang kau jejakkan di tanah.
begitu ikhlas mengantarmu mengejar sekawanan belalang
atau kupu-kupu elok di halaman belakang
suatu ketika kau berteriak sambil berkacak pinggang
di antara rimbun batang rumput
kau berseru :
Ayah....Langit berdebar biru !
aku tersenyum menatap wajahmu yang nampak lusuh
oleh petualanganmu meraih matahari
engkau belum mengenal basa-basi aku membacanya.
membaca puisi yang berkata lembut.
apa adanya dengan segala kekanakanmu
lelaplah dengan kehidupan yang kau lewatkan.
sebab esok kau akan terbangun melihat langit benar-benar berdebar biru
dari wajahmu yang paling lugu itu
Ayah yang jarang pulang...tak jadi masalah bagimu
engkau mungkin tak mengerti tentang kata-kata puitis
namun kesehajaan dari kanak-kanakmu
mengajariku untuk lebih paham arti kejujuran
bila demikian. lelap lebih pulaslah bintang hatiku
aku akan mengantarmu merayapi kepenatan penantian kepulanganku
dengan tanganku yang akan menjagamu sampai fajar, esok, dan seterusnya...
Lelaplah dengan mimpi-mimpi di siang harimu.
walau uang saku selalu saja tak terberi
lupakanlah, segala lelah yang bermula dari kakimu.
sebab tapak-tapak yang kau jejakkan di tanah.
begitu ikhlas mengantarmu mengejar sekawanan belalang
atau kupu-kupu elok di halaman belakang
suatu ketika kau berteriak sambil berkacak pinggang
di antara rimbun batang rumput
kau berseru :
Ayah....Langit berdebar biru !
aku tersenyum menatap wajahmu yang nampak lusuh
oleh petualanganmu meraih matahari
engkau belum mengenal basa-basi aku membacanya.
membaca puisi yang berkata lembut.
apa adanya dengan segala kekanakanmu
lelaplah dengan kehidupan yang kau lewatkan.
sebab esok kau akan terbangun melihat langit benar-benar berdebar biru
dari wajahmu yang paling lugu itu
Ayah yang jarang pulang...tak jadi masalah bagimu
engkau mungkin tak mengerti tentang kata-kata puitis
namun kesehajaan dari kanak-kanakmu
mengajariku untuk lebih paham arti kejujuran
bila demikian. lelap lebih pulaslah bintang hatiku
aku akan mengantarmu merayapi kepenatan penantian kepulanganku
dengan tanganku yang akan menjagamu sampai fajar, esok, dan seterusnya...
Perihal Rindu
Dan ranting dalam batok kepalaku bergemeretak.
Menimbulkan denyut yang paling gaduh.
Pohon cinta itu rubuh menyemburkan getah kerinduan pada bisik mesramu :
.. "sepi berdendang Seperti seruling lengking di ujung malam."
..Sekali ini...Terimalah uluran tangan edelweisku. Sekali ini....Peluklah dada lelaki paling sunyi ini.
Menimbulkan denyut yang paling gaduh.
Pohon cinta itu rubuh menyemburkan getah kerinduan pada bisik mesramu :
.. "sepi berdendang Seperti seruling lengking di ujung malam."
..Sekali ini...Terimalah uluran tangan edelweisku. Sekali ini....Peluklah dada lelaki paling sunyi ini.
Beri Aku Kesepian
beri aku kesepian, walau sekejap, puisi akan hadir bagai mataair,
mengalir dari telapak tangan dan membening ke dalam buku-buku tak
berwarna
engkau akan melihat sesuatu, terbujur di ruang kosong, kabut jiwa yang susut setelah retak dibaca kenangan
matahari yang telentang, tak mengirimku menjadi orang asing, namun aku melupakan janji pada sebuah kota, yang tak tahu kapan bisa kembali menyusun kerangka mimpi
karena angin yang baru saja lewat, seakan terhenti.
aku telah berubah, membiaskan sepi pada sepasang mata, yang enggan menerjemahkan bahasa
lihatlah, bagaimana kerinduan mengering di telinga yang tak lagi mendengar lagu kesunyian. mati dan menjelma seekor burung lalu hinggap di sebatang pohon
beri aku pengertian, karena aku sendiri lagi. tanpa kekasih yang mempersiapkan pisau di kamar. mungkin aku berjalan dengan sebuah kereta. di tengah belantara, di temani pepohonan, angin, burung, dan mimpi yang tertunda
di manakah angin gaib yang menyalakan mataku, ataukah kenangan akan selalu karam
di sini. langkah yang kutuliskan pada api
engkau akan melihat sesuatu, terbujur di ruang kosong, kabut jiwa yang susut setelah retak dibaca kenangan
matahari yang telentang, tak mengirimku menjadi orang asing, namun aku melupakan janji pada sebuah kota, yang tak tahu kapan bisa kembali menyusun kerangka mimpi
karena angin yang baru saja lewat, seakan terhenti.
aku telah berubah, membiaskan sepi pada sepasang mata, yang enggan menerjemahkan bahasa
lihatlah, bagaimana kerinduan mengering di telinga yang tak lagi mendengar lagu kesunyian. mati dan menjelma seekor burung lalu hinggap di sebatang pohon
beri aku pengertian, karena aku sendiri lagi. tanpa kekasih yang mempersiapkan pisau di kamar. mungkin aku berjalan dengan sebuah kereta. di tengah belantara, di temani pepohonan, angin, burung, dan mimpi yang tertunda
di manakah angin gaib yang menyalakan mataku, ataukah kenangan akan selalu karam
di sini. langkah yang kutuliskan pada api
Friksi
Begitu tajamkah mata pada cahaya
seperti karang menolak matahari sebagai kekasih, tapi kalbu malah terbakar akan resah perasaan karena penolakan-penolakan ini adalah karang bagi dunia dan pagi dan menjadi airmata bagi kalbu,
Ah..dan lihatlah kamu dan aku dapat bicara sekali lagi masuklah, masuk lewat mataku hingga tenggelam dalam leleh kalbuku setiap waktumu telah melebur menuju penghabisan hayatku mengeras dalam perenungan-perenungan yang tak mampu aku rampungkan.
Bilakah aku mengetuk diammu kepada cahaya atas bunga-bunga yang mekar di taman langit
aku meminta kalbumu untuk kalbuku dengan cahayaku yang dimiliki cahayamu, berhadapan dalam mata kalbu wahai diri...
seperti karang menolak matahari sebagai kekasih, tapi kalbu malah terbakar akan resah perasaan karena penolakan-penolakan ini adalah karang bagi dunia dan pagi dan menjadi airmata bagi kalbu,
Ah..dan lihatlah kamu dan aku dapat bicara sekali lagi masuklah, masuk lewat mataku hingga tenggelam dalam leleh kalbuku setiap waktumu telah melebur menuju penghabisan hayatku mengeras dalam perenungan-perenungan yang tak mampu aku rampungkan.
Bilakah aku mengetuk diammu kepada cahaya atas bunga-bunga yang mekar di taman langit
aku meminta kalbumu untuk kalbuku dengan cahayaku yang dimiliki cahayamu, berhadapan dalam mata kalbu wahai diri...
Senin, 24 Februari 2014
Aku Ingin Pulang
(......Dan ketika sekumpulan wajah gelisah! berderet di ruang tunggu
sebuah stasiun kereta.Suara asongan hiruk pikuk menawarkan
kegetiran.Sebuah lagu dangdut meliuk-liuk mencoba mencairkan
suasana......)
Aku masih tak sanggup pulang! kataku tiba-tiba.
Kepulan asap rokok menderu dari dadaku
Membentuk wajah yang kurindukan.Wajahmu!
Adapun ransel di pundakku adalah pelengkap suasana.
Siapa yang akan menjemputku jika pulang nanti?
ah....perjalanan ini seperti tak pernah berhenti
dan hakekat makna kerinduan...
menjadi sebatas gerimis yang mericik di teras stasiun kereta
Kereta tak kunjung tiba!
Orang-orang sibuk menakar kesabaran
Seorang bocah peminta-minta menelanjangi kepedihan
Sekeping harapan kulontarkan pada telapak nasibnya yang mungil.
ia tersenyum! namun...aku sibuk bercengkrama dengan lamunanku!
Kutimang-timang pilihan bathin
Aku tak tahu kemana harus pulang
Siapa yang akan kujelang nanti?
Ibu atau Bumi?
Segalanya sulit kusatukan seperti "alif" kedalam "lam".
Sebagai Ibu ia telah menyuangaikan susu dalam nadiku,
dan Bumi telah mengajarkan remah luka jadi gelegar tahun tahun sunyi.
Aku seperti peminta-minta yang di lontarkan oleh cinta dan harapan
Maka sambil bersabar bersama irama pop yang keliru!
membuat letih jiwaku menjadi sebuah kecengengan
Aku kian bosan menanti kepastian
Ya! aku ingin pulang !
dan merebahkan semua lukaku, merimbun dalam dekap tabahmu
maka izinkan aku pulang ke hatimu....Ibu.
Aku masih tak sanggup pulang! kataku tiba-tiba.
Kepulan asap rokok menderu dari dadaku
Membentuk wajah yang kurindukan.Wajahmu!
Adapun ransel di pundakku adalah pelengkap suasana.
Siapa yang akan menjemputku jika pulang nanti?
ah....perjalanan ini seperti tak pernah berhenti
dan hakekat makna kerinduan...
menjadi sebatas gerimis yang mericik di teras stasiun kereta
Kereta tak kunjung tiba!
Orang-orang sibuk menakar kesabaran
Seorang bocah peminta-minta menelanjangi kepedihan
Sekeping harapan kulontarkan pada telapak nasibnya yang mungil.
ia tersenyum! namun...aku sibuk bercengkrama dengan lamunanku!
Kutimang-timang pilihan bathin
Aku tak tahu kemana harus pulang
Siapa yang akan kujelang nanti?
Ibu atau Bumi?
Segalanya sulit kusatukan seperti "alif" kedalam "lam".
Sebagai Ibu ia telah menyuangaikan susu dalam nadiku,
dan Bumi telah mengajarkan remah luka jadi gelegar tahun tahun sunyi.
Aku seperti peminta-minta yang di lontarkan oleh cinta dan harapan
Maka sambil bersabar bersama irama pop yang keliru!
membuat letih jiwaku menjadi sebuah kecengengan
Aku kian bosan menanti kepastian
Ya! aku ingin pulang !
dan merebahkan semua lukaku, merimbun dalam dekap tabahmu
maka izinkan aku pulang ke hatimu....Ibu.
Minggu, 23 Februari 2014
Tentang Aku
DIA
dilahirkan pagi, Ibu sabar dan tak cemar, hangat mata matahari dia peluk
seakan tembuni. Dia menyusu dari pori keringat dan kulit susu. Bila
demam merayapi, ibu lekas melapainya dengan serendam pucuk lembut
lalambai, daun rajabangun
Pada usia lima, itu pertama kali dia berkelahi Bukan karena berani, tapi karena terlalu sedikit yang dia punya: wayang katak dan kura-kura biru
Dan itu harus dia pertahankan dengan kepalan dua tangan, dan dengan genggaman dua nyali
Pada usia enam, dia belajar menunggang sepeda, Dengan rantai dan roda memperpanjang dua kaki. Dia punya luka yang hingga kini masih tak sembuh. Luka tak terkeringkan oleh serbuk satin penisilin. Luka yang menandai bilakah mana dia mulai mengaji. Luka yang bertambah setiap hari, karena mata duri jeruju cemburu di ruas jalan kasar ke sekolah dasar
Karena mencintai rumah, dia amat gemar berkemah, Membangun tenda dari karung semen dan kotak kardus. Dan tidur di situ setelah mengatur karikatur mimpi. Dia sudah bisa berenang, diajari oleh gelombang, Ketika pertama kali harus memakai celana panjang. Bukan untuk sekadar menutup, dua lutut telanjang
Dia sudah tahu waktu, saat Ayah memberi jam tangan. Ada jam besar di Masjid desa, beralarm suara azan.Hujan tak menggigilkan dia, hujan adalah kawan bermain, dia menunggu datang musimnya. Petir tak menggentarkan dia, petir adalah retak langit bagi ulur tangan yang akan menjemput dia ke negeri yang menunggu dia.
Ketika memasukkan kaki ke jins pertamanya, dia seperti memasuki lorong tambang, atau seperti menaiki sebuah tangga besi, ke sebuah kapal api.
Dia menggali mineralnya sendiri, yang tak ada dalam tabel berkala, dia memikul dari kolong dengan bahu yang mulai mengeras tulang. Dia memulai pelayarannya sendiri. Yang jauh, berbadai gamang.
Pada hari dia terbang sendiri, di pesawat yang harga tiketnya dia tabung dari upah menulis, dia amat percaya bawa sayap tidak tumbuh di punggung, tapi itu telah lama ada, membentang di dalam kepala.
Senja dia pengaku dosa-dosa yang paling kotor, Malam dia penyair meragi jawab tak pernah ada. Fajar dia pengemis pemalu yang enggan meminta. Siang dia pewarta yang meragu pada peristiwa
Dia cuma pekebun kata, bukan tuan sehutan kalimat yang menakjubkan mata hati. Dia cuma penanam dan penjaga risalah keluarganya yang sederhana, bukan pemilik luas lahan kemewahan berhektar ribuan, Dia imam sembahyang, berjamaah saf bayang-bayang.
Bayangan Ibunya dan Tuhan nya.
Pada usia lima, itu pertama kali dia berkelahi Bukan karena berani, tapi karena terlalu sedikit yang dia punya: wayang katak dan kura-kura biru
Dan itu harus dia pertahankan dengan kepalan dua tangan, dan dengan genggaman dua nyali
Pada usia enam, dia belajar menunggang sepeda, Dengan rantai dan roda memperpanjang dua kaki. Dia punya luka yang hingga kini masih tak sembuh. Luka tak terkeringkan oleh serbuk satin penisilin. Luka yang menandai bilakah mana dia mulai mengaji. Luka yang bertambah setiap hari, karena mata duri jeruju cemburu di ruas jalan kasar ke sekolah dasar
Karena mencintai rumah, dia amat gemar berkemah, Membangun tenda dari karung semen dan kotak kardus. Dan tidur di situ setelah mengatur karikatur mimpi. Dia sudah bisa berenang, diajari oleh gelombang, Ketika pertama kali harus memakai celana panjang. Bukan untuk sekadar menutup, dua lutut telanjang
Dia sudah tahu waktu, saat Ayah memberi jam tangan. Ada jam besar di Masjid desa, beralarm suara azan.Hujan tak menggigilkan dia, hujan adalah kawan bermain, dia menunggu datang musimnya. Petir tak menggentarkan dia, petir adalah retak langit bagi ulur tangan yang akan menjemput dia ke negeri yang menunggu dia.
Ketika memasukkan kaki ke jins pertamanya, dia seperti memasuki lorong tambang, atau seperti menaiki sebuah tangga besi, ke sebuah kapal api.
Dia menggali mineralnya sendiri, yang tak ada dalam tabel berkala, dia memikul dari kolong dengan bahu yang mulai mengeras tulang. Dia memulai pelayarannya sendiri. Yang jauh, berbadai gamang.
Pada hari dia terbang sendiri, di pesawat yang harga tiketnya dia tabung dari upah menulis, dia amat percaya bawa sayap tidak tumbuh di punggung, tapi itu telah lama ada, membentang di dalam kepala.
Senja dia pengaku dosa-dosa yang paling kotor, Malam dia penyair meragi jawab tak pernah ada. Fajar dia pengemis pemalu yang enggan meminta. Siang dia pewarta yang meragu pada peristiwa
Dia cuma pekebun kata, bukan tuan sehutan kalimat yang menakjubkan mata hati. Dia cuma penanam dan penjaga risalah keluarganya yang sederhana, bukan pemilik luas lahan kemewahan berhektar ribuan, Dia imam sembahyang, berjamaah saf bayang-bayang.
Bayangan Ibunya dan Tuhan nya.
Sabtu, 22 Februari 2014
ALTAR SUNYI MALAM KE SERATUS
seratus malam aku terlelap. merayapi waktu yang pengap. usia rampung di
sini, kamar yang selalu berbau puisi. seperti penyair abad pertengahan.
aku memandang kapal menuju pelabuhan, menunggu kabar yang selalu
gantung dari seorang nakhoda. seketika didih gelombang merasuk lewat
mimpi panjangku, lewat geladak yang dijaga penumpang, dan kemudi yang
melambatkan daratan. aku sendiri
merentangkan kedatangan. menghirup bau garam. ada lelah yang terseret di
antara suara yang tak mampu menjangkau ujung-ujung kuku. mengendap di
penciuman. sepi dan lelah menunggangi garis-garis silam. naluri dari
ingatanku terkirim ke suatu negeri tanpa hukum untuk menyelesaikan
perkara cinta.
sampai di malam yang terakhir. aku terpelanting di antaran pohon-pohon bakau. hidup diam, dalam kata-kata yang murni sendiri. bahasa telah melupakan sirine kapal dan debur ombak. aku bernyanyi. aku melihat bulan tergantung di antara dahan-dahan ketapang. rimbun dan elok cahayanya. bagai mata ibu yang memintaku untuk berlaku jujur.
ah. alangkah dalam sunyi memanggilku. hingga aku melupakan siapa yang menunggu penuh janji. ( di dalam sunyi tak ada kanak-kanak, tak ada remaja, tak ada dewasa)
yang kutemukan adalah jiwaku menetes ke dalam waktu. roh dan puisi bergandengan menuntunku sampai ke gerbang penghabisan. rahasia dan isyarat tidak ada yang disembunyikan bila makna dapat diterima dengan sederhana. itu adalah ingatanku yang kesekian dari beberapa risalah yang kutemukan di tepian pantai.
Baiklah Chandra....untuk apa kau membalut kata-katamu dengan berlapis-lapis makna. saat semua orang tak mengerti apa maumu. engkau bersorak kegirangan. tidakkah engkau dilahirkan dari sebuah kesederhanaan sikap yang saling mengerti. engkau akan selalu asing bila tak ingin berbagi. ya berbagi saja apa adanya.
engkau dapat bercerita tentang petuah-petuah lama dan dongeng-dongeng tua. tentang malaikat yang mengajarimu bersujud. tentang puisi yang beranak pinak dari tangan jadahmu. kemudian kau lepas ia mengembara dicaci-maki atau...o, penyair lugu adakah malam-malam selanjutnya untuk kau akhiri permenunganmu?
Maka Istiqomah sajalah !!
sampai di malam yang terakhir. aku terpelanting di antaran pohon-pohon bakau. hidup diam, dalam kata-kata yang murni sendiri. bahasa telah melupakan sirine kapal dan debur ombak. aku bernyanyi. aku melihat bulan tergantung di antara dahan-dahan ketapang. rimbun dan elok cahayanya. bagai mata ibu yang memintaku untuk berlaku jujur.
ah. alangkah dalam sunyi memanggilku. hingga aku melupakan siapa yang menunggu penuh janji. ( di dalam sunyi tak ada kanak-kanak, tak ada remaja, tak ada dewasa)
yang kutemukan adalah jiwaku menetes ke dalam waktu. roh dan puisi bergandengan menuntunku sampai ke gerbang penghabisan. rahasia dan isyarat tidak ada yang disembunyikan bila makna dapat diterima dengan sederhana. itu adalah ingatanku yang kesekian dari beberapa risalah yang kutemukan di tepian pantai.
Baiklah Chandra....untuk apa kau membalut kata-katamu dengan berlapis-lapis makna. saat semua orang tak mengerti apa maumu. engkau bersorak kegirangan. tidakkah engkau dilahirkan dari sebuah kesederhanaan sikap yang saling mengerti. engkau akan selalu asing bila tak ingin berbagi. ya berbagi saja apa adanya.
engkau dapat bercerita tentang petuah-petuah lama dan dongeng-dongeng tua. tentang malaikat yang mengajarimu bersujud. tentang puisi yang beranak pinak dari tangan jadahmu. kemudian kau lepas ia mengembara dicaci-maki atau...o, penyair lugu adakah malam-malam selanjutnya untuk kau akhiri permenunganmu?
Maka Istiqomah sajalah !!
TULUS
katakan padaku!
Apa yang pantas dari keikhlasan Ansor
yang kupahat dalam hatiku untukmu!
Katakan padaku!
Apa yang pantas dari keridhoan Muhajirin
yang kuukir dalam kalbuku untukmu
Dan...
Bila suatu saat kau memahami
Inilah kalam yang menorehkan ayat dalam diam!
Kata dan kalimatnya mengalir dari kedua biji mata
Tangan bergetar memahat rasa
Aku bersila menuliskan kerinduan
Ketika...semua melebur dalam Ahaddiyah Robbku!
Engkau tak akan bisa mengukur perasaanku padamu
dan ketika semua menyatu dalam dzikir Somaddiyah
Engkau tak akan bisa membanding tujuan hatiku padamu
Sebelah mana akan kau lihat kekecewaan?
Bila semua angin tak berhembus
Bila binatang malam berhenti menyapa
Dan seribu bulan menyinari langkahku
Menjadi perjalanan lailatul qadar menuju hatimu!?
Sebelah mana akan kau lihat kepura-pura an?
Bila syair qur'ani mengalir dalam nadiku
Menjadi ayat-ayat kerinduan
Shaff dan juz'-nya telah fasih dan kokoh di lidahku
Takbir dan salamku berujung namamu
tapi...
Engkau seperti noktah terus menjauh dariku!
seperti huruf "alief" dan "lam" semua menjadi sulit dipersatukan
Engkau seperti sumbu yang menyalakan pelita hatiku
Menerangi jiwa dan melenakan hasrat!
Melebur dalam Ruh-ku yang mabuk bayang wajahmu
Tiba-tiba!
Engkau telah menjadi segalanya buatku!
Siapakah Engkau sesungguhnya?
Keabadian atau kesedihan?
maka, apapun wujudmu di hatiku
Semua tak akan merubah niatku!
Karena aku telah ikhlas mengukir kata : tulus!
Di dalam hatimu.!
Malam Beku Oktober 2011
Kepada sebuah hati dan persimpangannya....
Apa yang pantas dari keikhlasan Ansor
yang kupahat dalam hatiku untukmu!
Katakan padaku!
Apa yang pantas dari keridhoan Muhajirin
yang kuukir dalam kalbuku untukmu
Dan...
Bila suatu saat kau memahami
Inilah kalam yang menorehkan ayat dalam diam!
Kata dan kalimatnya mengalir dari kedua biji mata
Tangan bergetar memahat rasa
Aku bersila menuliskan kerinduan
Ketika...semua melebur dalam Ahaddiyah Robbku!
Engkau tak akan bisa mengukur perasaanku padamu
dan ketika semua menyatu dalam dzikir Somaddiyah
Engkau tak akan bisa membanding tujuan hatiku padamu
Sebelah mana akan kau lihat kekecewaan?
Bila semua angin tak berhembus
Bila binatang malam berhenti menyapa
Dan seribu bulan menyinari langkahku
Menjadi perjalanan lailatul qadar menuju hatimu!?
Sebelah mana akan kau lihat kepura-pura an?
Bila syair qur'ani mengalir dalam nadiku
Menjadi ayat-ayat kerinduan
Shaff dan juz'-nya telah fasih dan kokoh di lidahku
Takbir dan salamku berujung namamu
tapi...
Engkau seperti noktah terus menjauh dariku!
seperti huruf "alief" dan "lam" semua menjadi sulit dipersatukan
Engkau seperti sumbu yang menyalakan pelita hatiku
Menerangi jiwa dan melenakan hasrat!
Melebur dalam Ruh-ku yang mabuk bayang wajahmu
Tiba-tiba!
Engkau telah menjadi segalanya buatku!
Siapakah Engkau sesungguhnya?
Keabadian atau kesedihan?
maka, apapun wujudmu di hatiku
Semua tak akan merubah niatku!
Karena aku telah ikhlas mengukir kata : tulus!
Di dalam hatimu.!
Malam Beku Oktober 2011
Kepada sebuah hati dan persimpangannya....
Selalu Ada Sesuatu untuk Kau Kerjakan
Selalu akan ada sesuatu untuk kau kerjakan, Anakku;
Selalu ada saja kesalahan untuk jadi benar;
Selalu akan ada yang diperlukan, agar menjadi lelaki,
Dan lelaki tak pernah takut berkelahi.
Selalu akan ada kehormatan untuk dijaga, Anakku;
Selalu akan ada bukit untuk kau daki,
Dan tugas untuk ditunaikan, dan pertempuran baru
Dari saat ini hingga akhir waktu nanti.
Selalu akan ada bahaya menghalangi, Anakku;
Selalu ada sasaran untuk kau capai;
Lelaki harus mencoba, ketika jalan bercabang
Dan ia diuji dengan pilihan yang ia tetapkan.
Selalu akan ada beban untuk ditanggung, Anakku;
Selalu ada saatnya engkau merunduk berdoa;
Selalu akan ada air mata di tahun-tahun nanti,
Ketika orang terkasih pergi tak kembali
Selalu akan ada Tuhan yang melayani, Anakku,
dan selalu ada Bendera gagah berkibar;
Mereka menyerumu seiring hidup ini berlalu
demi keberanian dan kekuatan dan cinta.
Maka ada yang aku mimpikan, Anakku,
Dan itu kumimpikan sejak kau mulai hidupmu:
Bahwa apapun terjadi, bila dunia renta ini memanggil,
maka yang datang adalah tegar seorang Lelaki.
Selalu ada saja kesalahan untuk jadi benar;
Selalu akan ada yang diperlukan, agar menjadi lelaki,
Dan lelaki tak pernah takut berkelahi.
Selalu akan ada kehormatan untuk dijaga, Anakku;
Selalu akan ada bukit untuk kau daki,
Dan tugas untuk ditunaikan, dan pertempuran baru
Dari saat ini hingga akhir waktu nanti.
Selalu akan ada bahaya menghalangi, Anakku;
Selalu ada sasaran untuk kau capai;
Lelaki harus mencoba, ketika jalan bercabang
Dan ia diuji dengan pilihan yang ia tetapkan.
Selalu akan ada beban untuk ditanggung, Anakku;
Selalu ada saatnya engkau merunduk berdoa;
Selalu akan ada air mata di tahun-tahun nanti,
Ketika orang terkasih pergi tak kembali
Selalu akan ada Tuhan yang melayani, Anakku,
dan selalu ada Bendera gagah berkibar;
Mereka menyerumu seiring hidup ini berlalu
demi keberanian dan kekuatan dan cinta.
Maka ada yang aku mimpikan, Anakku,
Dan itu kumimpikan sejak kau mulai hidupmu:
Bahwa apapun terjadi, bila dunia renta ini memanggil,
maka yang datang adalah tegar seorang Lelaki.
TAHUN KELAHIRAN
Tahun kelahiran pun menjadi daun-daun
pisang yang merimbuni kebun keluargaku.
Dan musim biru mengasuh serdadu,
melampaui kecerdasan ibu-bapakku.
Lalu tiap kepala membentuk wajah serupa
dalam bait-bait sajak dukun beranak.
Pada pelepah usiaku yang mengusung
purnama di titik terlambat arah jarum jam,
tahun kelahiranku memahat gadis pada rumah,
ketika nada-nada minor siulan bapakku,
menghentikan biji-bijian mencinta tanah,
dan birahi yang dikucilkan musim basah.
Kini, Segala yang merambat membagi
jarak pada peta jiwaku yang berwarna. Tak ada
musim panen yang melahirkan tahun bisu,
selain ibuku, menunggu menantu di jalan buntu.
Selain aku, menanam tahun dalam puisi, tumbuh
menjadi anak-anak yang kulahirkan sendiri.
pisang yang merimbuni kebun keluargaku.
Dan musim biru mengasuh serdadu,
melampaui kecerdasan ibu-bapakku.
Lalu tiap kepala membentuk wajah serupa
dalam bait-bait sajak dukun beranak.
Pada pelepah usiaku yang mengusung
purnama di titik terlambat arah jarum jam,
tahun kelahiranku memahat gadis pada rumah,
ketika nada-nada minor siulan bapakku,
menghentikan biji-bijian mencinta tanah,
dan birahi yang dikucilkan musim basah.
Kini, Segala yang merambat membagi
jarak pada peta jiwaku yang berwarna. Tak ada
musim panen yang melahirkan tahun bisu,
selain ibuku, menunggu menantu di jalan buntu.
Selain aku, menanam tahun dalam puisi, tumbuh
menjadi anak-anak yang kulahirkan sendiri.
Perihal Kita
mengingatmu
seperti sebuah kata yang tertunda kata-kata seperti air mengalir sampai
akhir tak akan habis membasahi lidah..memenuhi kepala berdesak-desak
dan penuh dengan ingatan-ingatan yang enggan untuk dilupakan.kata-kata
kembali mengelana mencari makna,,segenap rasa kubiarkan mengalir sampai
merambat pada tebing – tebing yang memagari butiran gelisahku.senyum
kalian adalah hadiah terindah dalam hari hariku.
Sahabat...adakah semalam kau selipkan namaku dalam mimpi indahmu ..?
apakah salah jika menahan sejenak untuk meyakinkan kegamangan yang semakin menjadi.melewati setiap lipatan waktu selalu saja kuhitung jarak yang tercecer di jauhnya kenyataan.sampai permohonan yang sama-sama kita harapkan akan terjadi..
lihatlah,pagi ini angin malas berhembus…udara yang turun begitu dingin menembus rusuk..! semakin lama resah ku menyatu dalam keinginan nyata dilorong-lorong hati…
semua karenaNya kita harus tersenyum meski kecut dan melupakan beberapa bagian cerita kepedihan yang ada..!? agar kita sama-sama tahu dan mengerti bahwa khilaf akan selalu ada setiap waktu..
entahlah,..
semua akan kubiar lepas melayang dibawa debu jalan..karena aku belum sempat berkata lewat hati juga rasa yang selalu berharap..mengingatmu seperti sebuah kata yang masih tertunda…karena kau dan aku membangun cinta lewat kata dan kalimat maya..dari makna dari gemuruh dalam dada dan resah setiap waktu…
sebuah kata masih tertunda dan anganku ingin bergantung..menggapai harap tapi selalu tak pernah sampai..pesanku sungguh tak mampu kusampaikan segera… airmata yang sama kulihat mengalir dpipimu..hatiku enggan jika hanya dijadikan pelengkap…sementara kaki kita melangkah entah kemana…
jika sama-sama diam takkan pernah ada jawaban..dan airmata selalu kita jadikan alasan untuk ungkapkan kesedihan,..yang tak pernah habis selalu saja singgah di hati…hingga kau dan aku tak pernah bisa mengakui dengan kata-kata yang lebih jujur..
saat aku berbisik,ingin rasanya kupetik setiap tanggal yang berlalu..agar berhenti sejenak untuk mengulang memori yang terluka..dan kita pun bisa perbaiki serpihan rasa yang samasama kita janjikan..! untuk dipersembahkan pada sang maha pencinta...la cinta Ila maha cinta...
Sahabat...adakah semalam kau selipkan namaku dalam mimpi indahmu ..?
apakah salah jika menahan sejenak untuk meyakinkan kegamangan yang semakin menjadi.melewati setiap lipatan waktu selalu saja kuhitung jarak yang tercecer di jauhnya kenyataan.sampai permohonan yang sama-sama kita harapkan akan terjadi..
lihatlah,pagi ini angin malas berhembus…udara yang turun begitu dingin menembus rusuk..! semakin lama resah ku menyatu dalam keinginan nyata dilorong-lorong hati…
semua karenaNya kita harus tersenyum meski kecut dan melupakan beberapa bagian cerita kepedihan yang ada..!? agar kita sama-sama tahu dan mengerti bahwa khilaf akan selalu ada setiap waktu..
entahlah,..
semua akan kubiar lepas melayang dibawa debu jalan..karena aku belum sempat berkata lewat hati juga rasa yang selalu berharap..mengingatmu seperti sebuah kata yang masih tertunda…karena kau dan aku membangun cinta lewat kata dan kalimat maya..dari makna dari gemuruh dalam dada dan resah setiap waktu…
sebuah kata masih tertunda dan anganku ingin bergantung..menggapai harap tapi selalu tak pernah sampai..pesanku sungguh tak mampu kusampaikan segera… airmata yang sama kulihat mengalir dpipimu..hatiku enggan jika hanya dijadikan pelengkap…sementara kaki kita melangkah entah kemana…
jika sama-sama diam takkan pernah ada jawaban..dan airmata selalu kita jadikan alasan untuk ungkapkan kesedihan,..yang tak pernah habis selalu saja singgah di hati…hingga kau dan aku tak pernah bisa mengakui dengan kata-kata yang lebih jujur..
saat aku berbisik,ingin rasanya kupetik setiap tanggal yang berlalu..agar berhenti sejenak untuk mengulang memori yang terluka..dan kita pun bisa perbaiki serpihan rasa yang samasama kita janjikan..! untuk dipersembahkan pada sang maha pencinta...la cinta Ila maha cinta...
Kisah
Wahai masa Kanak....
Selamat malam aku takzimkan padamu...
kenangan yang kau serak di halaman patah sudah. bagai ranting-ranting yang meranggas kala kemarau. gugur perlahan menutupi jendela tempat kau melihat matahari terbenam. saat itu, tanganmu lebih mengerti arah angin yang menuntun langkahku. aku mencium nafasmu melalui nafasku dengan satu tarikan saja.
dan tanganmu menyimpan tangis dalam rencana yang mengisi tapak-tapaku. tanpa kau ungkap padaku sebuah riwayat di mana kau pernah di lahirkan lewat pohon tanpa kisah.
engkau mungkin lebih paham dariku. bagaimana kerinduan datang dengan tiba-tiba begini rupa di antara pesan-pesan tak bernama. ia menolak buku-buku bernuansa prosa. karena yang diinginkannya adalah pertemuan.
tapi kukira biarlah kita dilumatkan kesepian dengan kemenangannya. atau mungkin lebih tepatnya kita dipisahkan selamanya agar rindu mengekal dari naluri kita yang palin dalam. dan kita tak akan takut kepada sunyi selain pertemuan yang akan menghabiskan segala rindu kita.
bukankah engkau pernah mengajariku untuk mencintai rembulan separuh. di situ kesejatian yang kau berikan padaku hanya penyempurnaan di mana kita tak akan pernah menjangkaunya
kukira aku tamat dan tak perlu mengulanginya lagi dari segala ingatan
dan keharusan untuk terus melupakan pertemuan kita yang porak-poranda
dituntaskan oleh usiaku yang menua....
Selamat malam aku takzimkan padamu...
kenangan yang kau serak di halaman patah sudah. bagai ranting-ranting yang meranggas kala kemarau. gugur perlahan menutupi jendela tempat kau melihat matahari terbenam. saat itu, tanganmu lebih mengerti arah angin yang menuntun langkahku. aku mencium nafasmu melalui nafasku dengan satu tarikan saja.
dan tanganmu menyimpan tangis dalam rencana yang mengisi tapak-tapaku. tanpa kau ungkap padaku sebuah riwayat di mana kau pernah di lahirkan lewat pohon tanpa kisah.
engkau mungkin lebih paham dariku. bagaimana kerinduan datang dengan tiba-tiba begini rupa di antara pesan-pesan tak bernama. ia menolak buku-buku bernuansa prosa. karena yang diinginkannya adalah pertemuan.
tapi kukira biarlah kita dilumatkan kesepian dengan kemenangannya. atau mungkin lebih tepatnya kita dipisahkan selamanya agar rindu mengekal dari naluri kita yang palin dalam. dan kita tak akan takut kepada sunyi selain pertemuan yang akan menghabiskan segala rindu kita.
bukankah engkau pernah mengajariku untuk mencintai rembulan separuh. di situ kesejatian yang kau berikan padaku hanya penyempurnaan di mana kita tak akan pernah menjangkaunya
kukira aku tamat dan tak perlu mengulanginya lagi dari segala ingatan
dan keharusan untuk terus melupakan pertemuan kita yang porak-poranda
dituntaskan oleh usiaku yang menua....
Dzikir Sunyi Untuk Ibuku.
1.
bagiku cinta untuk ibu senantiasa membuat huruf-huruf tak pernah selesai kurangkai untuknya.bahwa tangan ini terlalu kecil,terlalu biasa sebagai cinta yang semakin dekat dekap raungku dan derap gempita doa yang direliefkan ibuku tak bisa kubalas dalam anomali airmata yang semakin asing pada nyala kasihnya...
2.
Dikamarku,hanya ada dinding bebal yang gagu,hanya suara petikan gitar dan nyanyi sepiku yang bergetar seperti sayup tak terdengar tentang gelisahku yang terkapar.Ah...adakah matahari lain yang dapat temani aku menembus dinding musim dingin abadi? sebab cuaca yang ibu titipkan padaku adalah pilihan dunia yang tak pernah selesai.
3
....jika lelah siapapun mesti pasrah pada pendakian,maka kurindu layang - layang diangkasa memeluk ruh jasadku lalu jiwaku tanah yang hanya mampu meneguk wangi susu bumi.akupun air mengalir menyusuri lekuk liku bumi hingga keperaduanmu..ibu. ini kali perjalanan terahir itu ketika diam kuberdiri dipintumu berkeluh tentang payah payahku,Ibu...izinkan aku tidur dirahimmu malam ini..
4.
beban mataku adalah risau yang hendak kutidurkan,tapi lelap enggan menyentuh mimpi dan perasaan berdiri sendiri lalu mendesah,menuju ayunan kantuk.lalu diri menjelma di dinding-dinding pualam lewat biji-biji tasbih,aku menjelma pembangkang yang lepas di tungkai doa.dan semestinya aku meminta restumu,ibu. agar malamku berangkat tak jauh dari tadarus sunyiku..
5.
Wahai...besarnya cinta ibumu ! kokohkan batu karang menenangkan gemuruh awan, terangkan malam dengan bintang-bintang. Jagalah ia yang menjagamu, berdirilah di sampingnya jika diancam bayang burukmu. tamengkan jiwanya dengan bakti merunduknya kalbumu, karena Surga hanya satu.jika bukan ibumu...surga manakah lagi yang hendak kau cari?
6.
surga dan ibuku,duduk berdampingan,di keduanya ada sungai mengalir jernih dimana kehidupanku bermula di rahimmu.aku layari sungai itu dalam perjalanan butarata menuju kasihmu.aku tahu semua payah-payahku ini selalu membuatmu menunggu dalam doa-doa yang kau sulam dengan air matamu.sungguh aku tak sempurna sebagai amanahmu.izinkan aku bersimpuh dikakimu untuk sekali lagi berkata : " Ibu, ada namamu penuh cinta di hatiku."
7.
Tangan itu memandikanku,memakaikan baju,membelai dan memelukku (ketika kecil), dan terlebih dari semuanya, berdoa untukku. tangan itu telah menyentuh dengan cara yang paling membekas dalam hatiku. Dunia memiliki banyak keajaiban, Segala ciptaan Tuhan begitu agung.tetapi tak satu pun yang dapat menandingi Keindahan tangan ibuku...!!
8.
Pantang memang jika ku menangis di hadapmu.Mungkin hanya senyum yang kan kau saksikan di binar indah syahdu matamu dan aku hanya ingin hadirkan sejuta senyum pada bibirmu.sungguh...telah kurajam selaksa perih pada hatimu.dan aku hanya mampu berharap Semoga masih cukup waktuku di dunia untuk berucap dan kau mendengar “ ini aku anakmu.... ibu ”
9
.IBU...kutulis ungkapan kehormatan padamu yang kini duduk menyaksikan ilham Allah merasuki tulang-tulang tuamu.aku merenung menggores bayangan butiran air matamu yang terdorong keluar oleh kerinduan padaku.aku berusaha menutupi jalan untuk air mataku yang tak sanggup menahan keharuan menuntut jalan keluar,mungkin hendak berteman dengan air matamu dan selembar jilbab yang kuberi untuk kemuliaanmu...
10.
Pada sebaris hujan,kumasuki cakrawala dengan payung terbuka tanpa layung senja.Terpa angin meninggalkan jejak dingin di dada.Engkau menggigil di jantungku,Bergetar dinadiku…Sebulir hujan menggantung di ujung payung sebuah kilau,Kumasuki kelambu hujan di mana perih dikalbu menggenggam rindu.. untukmu Ibu..
11.
Mulai menguarai suci Janin pahala menyebar surya rata.Sebagiannya tersisa tak terasa,Serba mustahil menjulang sangat singkat sosok.Di saujana musafir nampak rindu pada rahim cinta abadi,Sayang kabur inti dan makna,Tarikan saripati atas musim cinta lepas luka.Tetapi tahta rindu padamu masih memuncaki kerinduan-Nya dalam silau butir tasbih atas nama ibuku...
12.
Hingga tak tergambarkan,apa rasa ini.Hingga menatap ku selalu jauh, Hingga keperawanan surga, adalah hari hari bersamamu, Hingga tersadar, sendiri adalah ketersiksaan, Hingga kadang membenci jalan pencarianmu, Hingga ibuku,tepat diabawah ArasyMU.Hingga doa, seiring mendoakan sang Nabi, Hingga tak perlu malu mengakui, Ibu...Engkau separuh hidupku, dan mana mungkin aku hidup dengan setengah nyawa.
Dzikir Sunyi Pada Diriku
1.
Hari ini,Aku perintahkan kau Wahai Tubuh,Hati,Jiwa dan Pikiranku dan Roh yang Hidup,yang diciptakan olehNya untuk mencintai.wujudkan keinginanmu melalui kata dan perilaku.Buatlah Aku Roh yang hidup,untuk mencintai dan membahagiakan sesamaku dan masukan Ikhlas kedalamnya agar aku mencintai apa yang kukerjakan dan untuk orang-orang yang ada di sekitarku.Tuntunlah Aku bersamamu untuk melakukan segala kebaikan
2,
Demi diriku dengan suara yg menetes di ujung adzan.seperti desah napas yang berat oleh waktu melalui sujud dalam alif. ah.. yang menetes dan meleleh adalah kalbu dengan tahun-tahun penuh kelalaian dan terasa keluh untuk dilafazkan dalam pertemuan akhir salam takhiyat yang tak mampu diterawang oleh siapapun, kecuali maut yang sanggup menuntaskannya : Lâ ilâha illâ anta, subhânaka innî kuntu minazh zhâlimîn...duh Gusti.
3
“Kepada pemilik Asmaul husna”....dan kesekian kalinya aku berdoa dalam lenguhan diam, Jiwaku meminta dalam pergolakan. aku lahir dari lingkar malam dalam kesakitan dan kemenangan hawa nafsu, aku bersimpuh Dalam keheningan membungkus. dengarlah aku, memanggilmu tanpa malu, Di balik jeruji beku, di balik warna buram, telanjang aku menghadapmu Dalam kemunafikan mendalam...
4.
Chandra..untuk apa kau membalut kata-katamu dengan berlapis makna. saat semua tak mengerti apa maumu. tidakkah kau dilahirkan dari sebuah kesederhanaan? ya berbagi sajalah apa adanya. kau dapat bercerita tentang malaikat yang mengajarimu bersujud. tentang puisi yang beranak pinak dari tangan jadahmu. kemudian kau lepas ia mengembara dicaci-maki, meski malam-malam selanjutnya tak kau akhiri permenunganmu. istiqomah sajalah kau!
5.
Malam yang muram telah berlalu, Makna kegelapan sirna, Nur kebenaran adalah kebenderangan, Saat kepala makin merunduk tersungkur pada ribuan rintih penghambaan Sebagai tanda Agungnya sang Khalik. Isak lirih kidung detak jantung semakin dalam. Disinilah aku semakin mengenal kehinaan diri bagai noktah dalam cermin retak. Duh gusti,sudikah Engkau menerima porak porandanya wujud tak ikhlasku ini...?
6
.alif-lam-mim...samar terbaca, kuterjemahkan seperti angin yang menggalir, memagari setiap perenungan, melihat waktu telanjang dingin. dalam perasaan yang menjadi pucat dan bergetar ketakutan. Ya Rabb....Tanpa-MU aku hanya titik nol.
7.
Wahai diriku..lelaplah dengan mimpi sunyi malam ini. bisikkan pada ranjang yang dingin dari celoteh asmara. artikan mimpimu yang abadi, masuklah dalam dimensi hening mencumbu cinta Tuhanmu, hingga segala makna menguak di ujung pagi. dan esok, ambillah matahari kemudian taruh di puncak rasa syukurmu, biarkan cahaya yang bermekaran di bayang Ilahi menjadi prasasti yang bertuliskan perasaan dan cinta Ibumu dan Rabb-mu.
8.
aku terhenti di separuh malam menembus muara setiap lapisan langit yang mempertontonkan romantisme penciptaanMU. Bila waktu menghitung langkah Membusuk bersama kematian dzikirku. aku tak lagi Punya kuasa atas raga ini. Pinanglah aku ya Rabb..sebelum Semua Amalan menegurku. astaqfirullah... sudah begitu jauhkah nafsuku ? sampai aku harus bersusah payah ikhlas memujiMu.
9.
Wahai wajah dalam cermin...apa yang akan kau lukis dengan penamu di bentangan sajadah malammu? bagaimana caramu melukis objek yang kau inginkan agar terlihat jelas seperti do'a para nabi? Tadarus apa yang keluar dari nganga mulutmu dengan sejuta ritual, dan tafsir-tafsir yang jatuh di nyerih ngilu kalbumu ?..maka lukislah saja La Ilaha Ilallah !!
TIRAKAT
Aku tak menggenggam malammu, udaramu, dan fajarmu,
hanya Bumi, keniscayaan tandan-tandan buah itu,
bagai segar apel karena menyerap air yang manis,
lempung dan damar dari ladang harum, ladang manismu.
Dari Jakarta dari mana matamu memulai pandang
hingga Tasikmalaya di mana kakimu melangkah untukku,
engkaulah hitam tanah subur yang aku sangat tahu:
memegang pinggangmu, bagai kusentuh tangkai padi lagi.
O, Perempuan dari Ilham Allah, mungkin kau tak tahu
betapa lupa aku pada kecupanmu sebelum mencintaimu,
Tapi hatiku terus mengenang mulutmu, aku pun terus
dan terus menempuhi jalan sebagai lelaki terluka,
hingga aku memahami, Cinta: Aku sudah temukan
tempatku, bentang daratan kecupan dan gunung berapi.
LEMBING
Cinta yang pahit, sebumban duri mawar
dari belukar gairah yang meluka-mencidera
lembing dukacita, mahkota marah-murka
dari mana datang jalanmu, memandu ke jiwaku?
Apa yang memperlekas nyala api kepiluan,
yang masuk menyulut hijau daun kehidupanku?
Siapa tunjukkan jalan untukmu? Bunga, batu,
dan kabut apa yang mengabarkan di mana aku?
Karena bumi terguncang, di malam mencekam itu,
lalu fajar yang menuang anggur ke segala gelas,
dan datanglah Matahari, membawa terang surgawi.
Dan di dalam diri, ganas cinta membantai aku
hingga tajam duri dan pedangnya menembus aku,
menyayat jalan tersirau api, melintas hatiku.
MANUSKRIP MASA LALU
Pada pori-pori ibuku, aku menyusu keringat
bersama rasa cinta yang mengkilap. Ke timur
arah kembara, telah kumuntahkan jarum jam
yang mendarah dan mendaging dalam ruhku.
Bukankah tak pernah tidur segala rasa sakit,
ketika rumah mesti dibangun puluhan tahun,
ketika jelaga mesti dihisap sebelum cahaya
bulan siap menginap.
Menuju fatamorgana, pada hari raya yang
mencerna duka cita. Aku menggoyang lonceng
dan memastikan kegembiraan telah bertengger
di ujung tanduk. Tapi bukankah ibu harus
memasak masa lalu, untuk disuguhkan pada
anak-anaknya dan ayahku yang menggadai
lapar pada tahun-tahun yang menggelegar.
Bersama nyanyian kakaku yang menghibur
boneka kayu, aku mengira segala yang
sederhana, yang telah kuteguk dengan
terpaksa, harus kumuntahkan perlahan-lahan.
Tapi bukankah segala yang bersinar, menerangi
kesempurnaan. Sempurna memiliki hidup
yang bermakna bersama cacat beraneka rupa.
Antara Kamu Dan Doaku
Tuhan...
Entah kemana aku harus pulang?!
Bila jalan dan semua pintu tertutup.
Jiwaku lelah memapah kerinduan
Lidahku kelu mengeja Asmaul Husna-MU
Ragaku kepayang - lunglai menuju Arrasy-MU
Bathin melolong pada pertemuan malam-MU
Duh...Bidadari!
Ruhku seperti kingkilab terbang ke hatimu
Telah kuciptakan kepakiran dalam diriku
Apakah Engkau akan memutuskan membalas hatiku?
Sehingga persimpangan menjadi jelas dalam do'aku!
dan semua melebur dalam cinta dan amarahmu.
Tapi...tuhan!!
Ia hanya wanita yang telah sempurna kau cipta!
Maafkan ketidaktahuannya pada selubung hatiku
Maafkan ketaksabaranku akan karunia-MU
Karuniakan ia buatku!,jadikan ia pasangan jiwaku!
Maafkan keluh kesahku dalam menerima ijabah-MU
Anugerahkanlah Ia buatku!
Jadikan ia yang terbaik untukku!
Ya...Robb! pemilik segala keindahan!
Bila kau putuskan hatinya dari hatiku!
Kepedihan dalam do'a akan mengguncang bathin
Dan perjalanan pencarianku menjadi gelap dan butarata!
Aku seperti berjalan tanpa tujuan hati...
Tuhan...
Pantaskan aku menurut kepantasannya!
Walau tak ada yang pantas dariku untuknya!
Aku adalah lelaki tengah malam penuh tangisan
Pundakku penuh beban yang menghimpit
Tapi...pantaskan aku untuknya...ya rahman..ya rahim!
Sungguh!
Dalam diam kusebut namanya!
Dalam gerak kuingat wajahnya!
Dalam peralihan kulamunkan bayang tatap matanya!
andai...,aku berhenti diam dan menyebut namanya!
Maka atas kuasa-MU semua itu!
andai...,aku berhenti gerak! Engkaulah tuhan! pemilik keputusan itu!
dan,andai..aku berada pada peralihan!
palingkan aku pada dirinya yang selalu kurindukan.
Tegakkan niatku untuknya! seperti alief dalam lafadz-MU
Tuhan...
Izinkan aku memanggil dirinya dengan lidah ahli tauhid-MU
jangan putuskan harapanku!
jangan kau tutup pintu hatinya!
dan jadikan aku dengannya pasangan jiwa yang bertasbih pada-MU
amien...........
Kepada Yang belum sempurna dalam hatiku
Aku Hanya Ingin Bersujud
A ku hanya ingin bersujud....
K etika diam, bergerak dan peralihan...ketika aku hidup!
U bun ubun menampakkan serupa wajah abadi-MU
H anya pada MU aku alirkan segala rasa
A ku...ingin mabuk cinta-MU
N amun,aku seperti terpasak pada tiang nafsuku
Y ang merajai detik detik nafasku
A dalah setiap hari yang asing pada nyala kasih-MU
I ngin rasanya kukemas semua ini menjadi persembahan
N estapa kurajam habis dalam sepi sajadah malam
G erangan apa yang terjadi padaku?
I nilah aku dengan seluruh aku...
N nyanyianku sumbang terbata alief ba ta...
B uih yang memancar lafadz La ilaha ilallah
E ntahlah menjadi apa? hanya...
R inai gerimis yang menyungai dipipi dan jatuh ke altar-MU
S uaranya mericik di beranda kamarku yang asing
U mpama kumail* tak ada kefasihan dalam lidahku
J alan-MU mengabut diantara nafasku dan cermin dunia
U saikan semua ketergelinciran ini...
D an...aku hanya ingin bersujud ya....Robb!
MADAH CINTA DINATA
mengingatmu seperti sebuah kata yang tertunda kata-kata seperti air mengalir sampai akhir tak akan habis membasahi lidah..memenuhi kepala berdesak-desak dan penuh dengan ingatan-ingatan yang enggan untuk dilupakan.kata-kata kembali mengelana mencari makna,,segenap rasa kubiarkan mengalir sampai merambat pada tebing – tebing yang memagari butiran gelisahku.senyum kalian adalah hadiah terindah dalam hari hariku.
Sahabat...adakah semalam kau selipkan namaku dalam mimpi indahmu ..?
apakah salah jika menahan sejenak untuk meyakinkan kegamangan yang semakin menjadi.melewati setiap lipatan waktu selalu saja kuhitung jarak yang tercecer di jauhnya kenyataan.sampai permohonan yang sama-sama kita harapkan akan terjadi..
lihatlah,pagi ini angin malas berhembus…udara yang turun begitu dingin menembus rusuk..! semakin lama resah ku menyatu dalam keinginan nyata dilorong-lorong hati…
semua karenaNya kita harus tersenyum meski kecut dan melupakan beberapa bagian cerita kepedihan yang ada..!? agar kita sama-sama tahu dan mengerti bahwa khilaf akan selalu ada setiap waktu..
entahlah,..
semua akan kubiar lepas melayang dibawa debu jalan..karena aku belum sempat berkata lewat hati juga rasa yang selalu berharap..mengingatmu seperti sebuah kata yang masih tertunda…karena kau dan aku membangun cinta lewat kata dan kalimat maya..dari makna dari gemuruh dalam dada dan resah setiap waktu…
sebuah kata masih tertunda dan anganku ingin bergantung..menggapai harap tapi selalu tak pernah sampai..pesanku sungguh tak mampu kusampaikan segera… airmata yang sama kulihat mengalir dpipimu..hatiku enggan jika hanya dijadikan pelengkap…sementara kaki kita melangkah entah kemana…
jika sama-sama diam takkan pernah ada jawaban..dan airmata selalu kita jadikan alasan untuk ungkapkan kesedihan,..yang tak pernah habis selalu saja singgah di hati…hingga kau dan aku tak pernah bisa mengakui dengan kata-kata yang lebih jujur..
saat aku berbisik,ingin rasanya kupetik setiap tanggal yang berlalu..agar berhenti sejenak untuk mengulang memori yang terluka..dan kita pun bisa perbaiki serpihan rasa yang samasama kita janjikan..! untuk dipersembahkan pada sang maha pencinta...la cinta Ila maha cinta...
Aku Ingin Pulang Ke Hatimu
(......Dan ketika sekumpulan wajah gelisah! berderet di ruang tunggu sebuah stasiun kereta.Suara asongan hiruk pikuk menawarkan kegetiran.Sebuah lagu dangdut meliuk-liuk mencoba mencairkan suasana......)
Aku masih tak sanggup pulang! kataku tiba-tiba.
Kepulan asap rokok menderu dari dadaku
Membentuk wajah yang kurindukan.Wajahmu!
Adapun ransel di pundakku adalah pelengkap suasana.
Siapa yang akan menjemputku jika pulang nanti?
ah....perjalanan ini seperti tak pernah berhenti
dan hakekat makna kerinduan...
menjadi sebatas butiran hujan yang mericik di teras stasiun kereta
Kereta tak kunjung tiba!
Orang-orang sibuk menakar kesabaran
Seorang bocah peminta-minta menelanjangi kepedihan
Sekeping harapan kulontarkan pada telapak nasibnya yang mungil.
ia tersenyum! namun...aku sibuk bercengkrama dengan lamunanku!
Kutimang-timang pilihan bathin
Aku tak tahu kemana harus pulang
Siapa yang akan kujelang nanti?
Aku seperti peminta-minta yang di lontarkan oleh cinta dan harapan
Maka sambil bersabar bersama irama pop yang keliru!
membuat letih jiwaku menjadi sebuah kecengengan
Aku kian bosan menanti kepastian
Ya! aku ingin pulang !
dan merebahkan semua lukaku
maka izinkan aku pulang ke hatimu
Seandainya Kamu Memahami
S eandainya...sedikit saja engkau memahami...
E ngkau tak mungkin memalingkan wajah kerinduan pada nestapa
A bu amarah yang kau terbangkan pada kelopak langit
N nyanyianmu sumbang dalam orkestra hatiku yang menghitam
D isini...telah kau sempurnakan semua kecemasan
A ku diam bukan bisu...karena kata telah habis kau rampas!
I nilah hari dimana kau pergi.....
N nyanyianku sembilu yang merajam hati
Y ang tak lagi kau dengar iramanya meski terbata
K ita menjadi asing satu sama lain
A antra kita telah berukur jarak yang di ukir langkahmu
M aka semua menjadi kerinduan yang membatu
U ntuk inikah kita bertemu?
M anakah wangi asa yang pernah kau hembuskan?
E ngkau ingkari kata dan kalimatnya
M embangun tiang kokoh ketidaktahuanku
A ku menjelma sepi tak berkesudahan
H ampa...dalam altar kalbu kepedihan
A ku kini selalu... menulis namamu dalam diam
M embacanya samar dan kemudian aku tulis lagi...
I nilah aku ..ah...seandainya engkau memahami
Pengakuan
Bila saja aku boleh memilih...
Aku ingin seperti kumail
Yang di ajarkan kefasihan cinta
Dan merubah hasrat menjadi doa tak berkarat!
Yang kupersembahkan hanya padamu bidadari!
Aku ingin seperti Ammar
Yang di tunjukkan kebenaran cinta
Dari rahim ketulusan yang melahirkan ayat suci
Dan takbir serta salamku...selalu padamu!
Aku ingin seperti Bilal
Yang di karuniai keyakinan cinta
Dari kalimat bersahaja yang membuka pintu keridhoan
Dan kalimat cinta akan terus menyirami hatimu!
Tapi aku tetap saja aku!
Yang mencoba menghapus jejak kejatuhan dan keruntuhan hati
Mengikuti jalan cahaya cinta yang samar dari matamu...
meleburkan hasrat pada bayang wajahmu
Maka.....Entah dimana Kumail dalam hasratku padamu!
Entah dimana Ammar dalam tujuanku untukmu!
Entah dimana Bilal dalam asaku bagimu!
Karena yang kutahu! semuanya tak menyatu dalam diriku
Aku hanya mampu diam di rajam pesona dirimu.
Aku ingin seperti kumail
Yang di ajarkan kefasihan cinta
Dan merubah hasrat menjadi doa tak berkarat!
Yang kupersembahkan hanya padamu bidadari!
Aku ingin seperti Ammar
Yang di tunjukkan kebenaran cinta
Dari rahim ketulusan yang melahirkan ayat suci
Dan takbir serta salamku...selalu padamu!
Aku ingin seperti Bilal
Yang di karuniai keyakinan cinta
Dari kalimat bersahaja yang membuka pintu keridhoan
Dan kalimat cinta akan terus menyirami hatimu!
Tapi aku tetap saja aku!
Yang mencoba menghapus jejak kejatuhan dan keruntuhan hati
Mengikuti jalan cahaya cinta yang samar dari matamu...
meleburkan hasrat pada bayang wajahmu
Maka.....Entah dimana Kumail dalam hasratku padamu!
Entah dimana Ammar dalam tujuanku untukmu!
Entah dimana Bilal dalam asaku bagimu!
Karena yang kutahu! semuanya tak menyatu dalam diriku
Aku hanya mampu diam di rajam pesona dirimu.
Jumat, 21 Februari 2014
Sehabis Dhuha : (Dalam renung bagi diriku)
adakah kebenaran yang kau temui dari setiap sujud sebelum maut menjemput di perbatasan sunyi.?
begitulah,kiranya kau berlari merabas kemungkinan dari hati yang khusyuk dan sejenak diam tanpa harus menghabiskan setiap perbendaharaan kata yang tersimpan antara kaf dan nun
di mihrab-Nya tak kau pahami betapa waktu mengukirmu menjadi kelam dan kehilangan kesabaran lalu kau dengar sebuah bisikan :
...." kembalilah menjalani hari dengan hari-hari yang suci,dan biarkan tubuh diam, tanpa ruh." ...
angin khuldi, meniupkan pembenaran,dinding kamar menjadi sunyi senyap tanpa lampu,gelap, penuh airmata...mungkin,kau harus begini tanpa berharap benda benda dunia dari pintu membuka segala keikhlasan dan kembali dalam keberdayaanmu sebagai hamba.
Sehimpun Kata Untuk Ibuku
Ibu aku pulang....aku mencari makna kerinduan itu di matamu,aku menemukan makna kata itu ketika kau menahan isak dan kudengar --- "Lihat! aku tak menangis, bukan?" kau menggigiti bibir,membikin semacam senyum,aku mengangguk dan semakin percaya pada bahasa air mata.
ii
Ibu..kakimu.kaki kecil yang tegar.mengalirkan jejak doa pada ubun-ubunku.aku cinta kakimu karena hanya langkahnya melintasi bumi,menembus angin,melewati rintih perih.IBu..pijakan saja kakimu di pundakku sebagai alas langkahmu,karena aku takut,surga mengutukku
iii
Ibu...kau percayakah? di sini,ada musim yang tidak singgah? dan tanpa engkau. aku kian kemarau.kau kirim zikir-zikir.semakin dekat bibir pada persujudan kakiku yang berjalan penuh kerikil menuju bening hatimu.
iv
Yang mengalirkan hangat itu adalah tangan Ibu.Aku terbangun ketika ia menyentuh pipi dan dahiku:meyakinkan lagi,aku masih mengenang kecupannya di sana, sebelum terlelap semalam."IBU mau kau menemukan wangi pada sajadah,yang sudah ibu hamparkan bagi sholatmu."Sejak itu,aku suka memperpanjang sujud dan tahu harus menyebut nama siapa pada doa yang kubaca.
v
Ibu...Bila suatu saat Tuhan berbisik memanggil Ruh-mu.maka Jarak antara kau dan aku menjadi tak terseberangi.Aku menjadi satu-satunya ahli warismu: Menguasai seluruh remuk redam perih dan sepi.Dengan siapa itu harus kubagi?
Langganan:
Komentar (Atom)
