Minggu, 23 Februari 2014

Tentang Aku

DIA dilahirkan pagi, Ibu sabar dan tak cemar, hangat mata matahari dia peluk seakan tembuni. Dia menyusu dari pori keringat dan kulit susu. Bila demam merayapi, ibu lekas melapainya dengan serendam pucuk lembut lalambai, daun rajabangun

Pada usia lima, itu pertama kali dia berkelahi Bukan karena berani, tapi karena terlalu sedikit yang dia punya: wayang katak dan kura-kura biru
Dan itu harus dia pertahankan dengan kepalan dua tangan, dan dengan genggaman dua nyali

Pada usia enam, dia belajar menunggang sepeda, Dengan rantai dan roda memperpanjang dua kaki. Dia punya luka yang hingga kini masih tak sembuh. Luka tak terkeringkan oleh serbuk satin penisilin. Luka yang menandai bilakah mana dia mulai mengaji. Luka yang bertambah setiap hari, karena mata duri jeruju cemburu di ruas jalan kasar ke sekolah dasar

Karena mencintai rumah, dia amat gemar berkemah, Membangun tenda dari karung semen dan kotak kardus. Dan tidur di situ setelah mengatur karikatur mimpi. Dia sudah bisa berenang, diajari oleh gelombang, Ketika pertama kali harus memakai celana panjang. Bukan untuk sekadar menutup, dua lutut telanjang

Dia sudah tahu waktu, saat Ayah memberi jam tangan. Ada jam besar di Masjid desa, beralarm suara azan.Hujan tak menggigilkan dia, hujan adalah kawan bermain, dia menunggu datang musimnya. Petir tak menggentarkan dia, petir adalah retak langit bagi ulur tangan yang akan menjemput dia ke negeri yang menunggu dia.

Ketika memasukkan kaki ke jins pertamanya, dia seperti memasuki lorong tambang, atau seperti menaiki sebuah tangga besi, ke sebuah kapal api.
Dia menggali mineralnya sendiri, yang tak ada dalam tabel berkala, dia memikul dari kolong dengan bahu yang mulai mengeras tulang. Dia memulai pelayarannya sendiri. Yang jauh, berbadai gamang.

Pada hari dia terbang sendiri, di pesawat yang harga tiketnya dia tabung dari upah menulis, dia amat percaya bawa sayap tidak tumbuh di punggung, tapi itu telah lama ada, membentang di dalam kepala.

Senja dia pengaku dosa-dosa yang paling kotor, Malam dia penyair meragi jawab tak pernah ada. Fajar dia pengemis pemalu yang enggan meminta. Siang dia pewarta yang meragu pada peristiwa

Dia cuma pekebun kata, bukan tuan sehutan kalimat yang menakjubkan mata hati. Dia cuma penanam dan penjaga risalah keluarganya yang sederhana, bukan pemilik luas lahan kemewahan berhektar ribuan, Dia imam sembahyang, berjamaah saf bayang-bayang. 

Bayangan Ibunya dan Tuhan nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar