DIA
dilahirkan pagi, Ibu sabar dan tak cemar, hangat mata matahari dia peluk
seakan tembuni. Dia menyusu dari pori keringat dan kulit susu. Bila
demam merayapi, ibu lekas melapainya dengan serendam pucuk lembut
lalambai, daun rajabangun
Pada usia lima, itu pertama kali dia berkelahi Bukan karena berani, tapi karena terlalu sedikit yang dia punya: wayang katak dan kura-kura biru
Dan itu harus dia pertahankan dengan kepalan dua tangan, dan dengan genggaman dua nyali
Pada usia enam, dia belajar menunggang sepeda, Dengan rantai dan roda
memperpanjang dua kaki. Dia punya luka yang hingga kini masih tak
sembuh. Luka tak terkeringkan oleh serbuk satin penisilin. Luka yang
menandai bilakah mana dia mulai mengaji. Luka yang bertambah setiap
hari, karena mata duri jeruju cemburu di ruas jalan kasar ke sekolah
dasar
Karena mencintai rumah, dia amat gemar berkemah,
Membangun tenda dari karung semen dan kotak kardus. Dan tidur di situ
setelah mengatur karikatur mimpi. Dia sudah bisa berenang, diajari oleh
gelombang, Ketika pertama kali harus memakai celana panjang. Bukan untuk
sekadar menutup, dua lutut telanjang
Dia sudah tahu waktu,
saat Ayah memberi jam tangan. Ada jam besar di Masjid desa, beralarm
suara azan.Hujan tak menggigilkan dia, hujan adalah kawan bermain, dia
menunggu datang musimnya. Petir tak menggentarkan dia, petir adalah
retak langit bagi ulur tangan yang akan menjemput dia ke negeri yang
menunggu dia.
Ketika memasukkan kaki ke jins pertamanya, dia
seperti memasuki lorong tambang, atau seperti menaiki sebuah tangga
besi, ke sebuah kapal api.
Dia menggali mineralnya sendiri, yang tak
ada dalam tabel berkala, dia memikul dari kolong dengan bahu yang mulai
mengeras tulang. Dia memulai pelayarannya sendiri. Yang jauh, berbadai
gamang.
Pada hari dia terbang sendiri, di pesawat yang harga
tiketnya dia tabung dari upah menulis, dia amat percaya bawa sayap tidak
tumbuh di punggung, tapi itu telah lama ada, membentang di dalam
kepala.
Senja dia pengaku dosa-dosa yang paling kotor, Malam
dia penyair meragi jawab tak pernah ada. Fajar dia pengemis pemalu yang
enggan meminta. Siang dia pewarta yang meragu pada peristiwa
Dia cuma pekebun kata, bukan tuan sehutan kalimat yang menakjubkan mata
hati. Dia cuma penanam dan penjaga risalah keluarganya yang sederhana,
bukan pemilik luas lahan kemewahan berhektar ribuan, Dia imam
sembahyang, berjamaah saf bayang-bayang.
Bayangan Ibunya dan Tuhan nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar