Sebagai diam, aku tak harus bernaung dari sunyi membaca kesepian selamanya. Sebagai titik air, aku tak harus jadi airmata dirabun mataku. Namun, jika kusentuh genangan kesepianmu, apakah lingkar riaknya akan sampai keseberang, ketepian kesendirianku ?
Sabtu, 22 Februari 2014
MANUSKRIP MASA LALU
Pada pori-pori ibuku, aku menyusu keringat
bersama rasa cinta yang mengkilap. Ke timur
arah kembara, telah kumuntahkan jarum jam
yang mendarah dan mendaging dalam ruhku.
Bukankah tak pernah tidur segala rasa sakit,
ketika rumah mesti dibangun puluhan tahun,
ketika jelaga mesti dihisap sebelum cahaya
bulan siap menginap.
Menuju fatamorgana, pada hari raya yang
mencerna duka cita. Aku menggoyang lonceng
dan memastikan kegembiraan telah bertengger
di ujung tanduk. Tapi bukankah ibu harus
memasak masa lalu, untuk disuguhkan pada
anak-anaknya dan ayahku yang menggadai
lapar pada tahun-tahun yang menggelegar.
Bersama nyanyian kakaku yang menghibur
boneka kayu, aku mengira segala yang
sederhana, yang telah kuteguk dengan
terpaksa, harus kumuntahkan perlahan-lahan.
Tapi bukankah segala yang bersinar, menerangi
kesempurnaan. Sempurna memiliki hidup
yang bermakna bersama cacat beraneka rupa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar