Sebagai diam, aku tak harus bernaung dari sunyi membaca kesepian selamanya. Sebagai titik air, aku tak harus jadi airmata dirabun mataku. Namun, jika kusentuh genangan kesepianmu, apakah lingkar riaknya akan sampai keseberang, ketepian kesendirianku ?
Sabtu, 22 Februari 2014
LEMBING
Cinta yang pahit, sebumban duri mawar
dari belukar gairah yang meluka-mencidera
lembing dukacita, mahkota marah-murka
dari mana datang jalanmu, memandu ke jiwaku?
Apa yang memperlekas nyala api kepiluan,
yang masuk menyulut hijau daun kehidupanku?
Siapa tunjukkan jalan untukmu? Bunga, batu,
dan kabut apa yang mengabarkan di mana aku?
Karena bumi terguncang, di malam mencekam itu,
lalu fajar yang menuang anggur ke segala gelas,
dan datanglah Matahari, membawa terang surgawi.
Dan di dalam diri, ganas cinta membantai aku
hingga tajam duri dan pedangnya menembus aku,
menyayat jalan tersirau api, melintas hatiku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar