beri aku kesepian, walau sekejap, puisi akan hadir bagai mataair,
mengalir dari telapak tangan dan membening ke dalam buku-buku tak
berwarna
engkau akan melihat sesuatu, terbujur di ruang kosong, kabut jiwa yang susut setelah retak dibaca kenangan
matahari yang telentang, tak mengirimku menjadi orang asing, namun aku
melupakan janji pada sebuah kota, yang tak tahu kapan bisa kembali menyusun kerangka mimpi
karena angin yang baru saja lewat, seakan terhenti.
aku telah berubah, membiaskan sepi pada sepasang mata, yang enggan menerjemahkan bahasa
lihatlah, bagaimana kerinduan mengering di telinga yang tak lagi
mendengar lagu kesunyian. mati dan menjelma seekor burung lalu hinggap
di sebatang pohon
beri aku pengertian, karena aku sendiri lagi.
tanpa kekasih yang mempersiapkan pisau di kamar. mungkin aku berjalan
dengan sebuah kereta. di tengah belantara, di temani pepohonan, angin,
burung, dan mimpi yang tertunda
di manakah angin gaib yang menyalakan mataku, ataukah kenangan akan selalu karam
di sini. langkah yang kutuliskan pada api
Tidak ada komentar:
Posting Komentar