Minggu, 02 Maret 2014

Friksi

Begitu tajamkah mata pada cahaya
seperti karang menolak matahari sebagai kekasih, tapi kalbu malah terbakar akan resah perasaan karena penolakan-penolakan ini adalah karang bagi dunia dan pagi dan menjadi airmata bagi kalbu,

Ah..dan lihatlah kamu dan aku dapat bicara sekali lagi masuklah, masuk lewat mataku hingga tenggelam dalam leleh kalbuku setiap waktumu telah melebur menuju penghabisan hayatku mengeras dalam perenungan-perenungan yang tak mampu aku rampungkan.

Bilakah aku mengetuk diammu kepada cahaya atas bunga-bunga yang mekar di taman langit
aku meminta kalbumu untuk kalbuku dengan cahayaku yang dimiliki cahayamu, berhadapan dalam mata kalbu wahai diri...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar