Mari memarkan ingatan pada Asma-Nya. benturkan yang tak gamang,
bergeming, samarkan nama dengan sesukat sakit pada lidah yang selalu
ingin menyebut-Nya. Kita bukanlah penyabar, bukankah di hadapan waktu
kita sama saja : juga tak berdaya?
dan demi hidup yang tak
hidup itu, seluka -seluka, mengaduhlah sepedih-pedihnya hanya pada-Nya.
Dengan demam tubuh mengucap apa yang ia pendam. Mungkin, akhirnya, kita,
aku dan kau dan tubuh kita, rindu sekadar sekejap pejam pada sajadah
usang itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar