Sabtu, 15 Maret 2014

Perihal aku :

Siapa yang datang dari nganga mulutku dengan sejuta ritual, dan tafsir tafsir yang jatuh di nyeri ngilu kalbu, menjadi puing puing doa ketika segala peristiwa tak dapat dimaknai. Apakah hening zikir menjadi cawan tempat mata air, menanyakan pada segala tanya, segala amarah, mencerna segala perih. Didalam gua sunyi ini, seperti imam yang menggigil ingin kudekap merah duka menjadi tanah dan laut kata yang bergelombang menemui rusuk abadiku. Pada nyanyian resah kutelah sunyikan lagi cinta dan berlinang denyut abadiku menyusun lagi angan tak berakhir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar